Ceritaku untuk Diri Sendiri
Kamis, 1 Juli 2021
10:52 PM
Semula ingin membagikan pengalamanku ini di story Instagram karena rasanya cukup malas untuk berpanjang lebar menulis di blog. Namun tulisan di instastory dihapus kembali karena takut dianggap spam. Akupun menutup aplikasi tersebut dan berpindah ke Twitter. Ya,Twitter. Aku kembali berselancar di dunia penuh cuitan itu sejak 2-3 bulan lalu mungkin? Entahlah, aku tidak menghitung waktu sejak kapan aku kembali pada aplikasi dengan logo biru ini. Sebab beberapa bulan terakhir aku sangat bosan untuk melihat gambar dan video di aplikasi sebelah, karena kebanyakan hanya berisikan kegiatan teman yang aesthetic, fashionable, bahkan ‘fancy’.
Ingin juga rasanya aku ikut banyak bercuit disana–tapi sekali lagi–aku membatalkannya. Maka dari itu, kegiatanku di twitter hanya sekedar like dan retweet saja. Entah mengapa aku merasa belum enak hati untuk kembali menulis tweet, apalagi aku berniat menulis tweet sepanjang ini. Jadi aku putuskan, menulis di blog adalah menjadi pilihan terakhir untukku menulis cerita ini.
Baik, sudah selesai sesi curhat colongannya. Mari menikmati ceritaku, dan semoga kalian yang membaca merasa menikmati.
Cerita ini aku dedikasikan untuk diriku sendiri. Aku mulai sadar, bahwa ternyata aku sangat jarang mengapresiasi diri sendiri. Faktor paing memungkinkan adalah karena aku terlalu banyak melihat orang sekelilingku yang sudah lebih diatas ataupun lebih maju pencapaiannya daripada aku. Alhasil, akupun lupa bahwa aku juga harus berterima kasih kepada diriku sendiri.
Menjadi Brand Ambassador
Kampus
Hingga saat ini, aku tidak pernah
menyangka bahwa zaman kuliah adalah zaman yang paling ‘ambis’ untuk aku
geluti. Walaupun disemester awal
(Semester 1), aku sangat down karena banyak temanku yang berhasil masuk PTN dan sekolah dinas. Sedangkan aku? Kuliah di PTS, itupun
disarankan ibuku dan aku manut aja. Aku sama sekali tidak minat PTS pada waktu
SMA. Yaiyalah, siapa yang mau masuk PTS? Biayanya mahal, dan sering dianggap opsi
dua (walau memang kenyataannya). Pada semester satu aku sama sekali tidak mengerti
tentang belajar Hubungan Internasional. Lagi-lagi, program studiku ini bahkan
ditentukan oleh ibuku. Aku sebenarnya sangat ingin masuk program studi Ilmu
Komunikasi, namun ternyata ada rasa kekhawatiran dari ibuku. Ibuku berkata bahwa kalau masuk
Ilkom aku takut jadi anak yang salah pergaulan, hehe. Baiklah, aku manut lagi. Aku percaya bahwa pilihan dan restu orangtua adalah yang terbaik.
Walaupun dengan risiko tadi, aku sama sekali tidak mengerti tentang belajar Hubungan
Internasional–ditambah aku tidak update tentang keadaan internasional kecuali
Palestina.
Berlanjut, di semester satu
itu IPK-ku biasa banget. Cuman 3,25. Sangat standar untuk mahasiswa yang
berkuliah di swasta prodi sosial humaniora. Sejak itu, aku bertekad untuk meningkatkan IPK-ku dengan
cara belajar lebih niat karena kuliahkau dibayar dari keringat orangtua, bukan
pemerintah. Walaupun aku merasa masih terseok untuk belajar HI dengan teori
yang sangat banyak–tugas membaca buku, jurnal, dan berita yang bejibun–namun
aku percaya, gapernah ada yang namanya rugi dalam membaca sesuatu. Kecuali
membaca berita gossip.
Suatu masa mengubahku ketika aku terpilih menjadi salah satu BA (Brand Ambassador) di kampusku. Atau yang lebih dikenal dengan istilah Promotion Ambassador. Itupun temanku yang mengajak untuk daftar dan ikut seleksi. Aku hanya iseng, karena tidak enak untuk menolak ajakan teman baikku itu. Ketika mendaftar akupun sudah mau penutupan di hari-hari terakhir–pun ketika seleksi aku enggak mempersiapkan sama sekali–hanya sekedar membaca profile kampusku seadanya di angkutan umum dan busway ketika mau berangkat kuliah dan seleksi pada hari itu.
Kalau gak terpilih jadi BA juga gapapa, batinku. Toh aku enggak merasa maksimal dalam seleksi waktu itu. Aku ingat betul, muka senior kampus yang menyeleksi sangat tidak ramah, tidak ada senyum, dan tidak ada basa basinya (walaupun kenyataannya ketika kami saling mengenal mereka sosok senior yang baik). Bagaimana aku bisa senyum kalau muka mereka saja tidak ada ramahnya sama sekali? Aku hanya terbujur kaku ketika aku memperkenalkan diri dan presentasi sepemahaman yang aku tahu tentang kampusku. Masih semester 1, belum terlalu banyak mengenal kampus –baru belajar mengenal mana teman yang mengajak mengerjakan tugas serta teman yang kerjaannya mengajak nongkrong–dan belajar memahami apa isi program studiku pastinya.
Namun dibalik dinginnya sesi interview itu, ada yang sedikit mengesankan. Pengalaman interview tersebut yang paling mengesankan adalah ketika aku menjelaskan bahwa aku bisa bermain biola, dan gitar (dikit-dikit pada nada dasar). Seketika sontak muka para senior itu agak terperangah seperti tidak percaya dan bertanya ‘beneran bisa?’. Sayangnya, aku tidak bawa biola pada waktu itu jadi tidak bisa kubuktikan. Sampai saat ini aku percaya bahwa walau presentasiku biasa-biasa saja (tidak memukau para senior), dan tidak punya skill public speaking, ternyata aku punya satu nilai tambah yang tidak dimiliki oleh peserta interview lain. Ya, bisa bermain biola! Mungkin itu pertimbangan para senior sehingga aku dipilih. Padahal permainan biolaku pun masih biasa banget. Mungkin para senior menganggap bahwa public speaking bisa diasah dan dipelajari seiring waktu, dan mengutamakan yang punya bakat. Ini hanya fikiranku saja.
Terbukti, setelah aku terpilih menjadi BA kampusku, aku banyak bermain biola diacara kampusku dengan penonton mahasiswa, anak SMA, anak kecil, orangtua murid, hingga guru-guru–baik di dalam kampus, diluar kampus, hingga pada acara nikahan seniorku! Such an honor. Big thanks untuk teman-temanku yang pernah mendampingi bermain gitar dan piano agar biolanya enggak garing dan engak bikin ngantuk yang nonton hehe
Also big thanks to me. Terima kasih, kamu tidak mau menyerah walau keadaan pada waktu itu cukup sulit dan berat. Namun kamu bisa belajar melangkah.
