Puisiku, Menyapamu
Aku sedang berjalan di
tengah-tengah teriknya matahari pukul 12. Aku merasakan cuaca yang sangat panas siang ini. Minum
teh susu mungkin segar, fikirku. Baiklah, kuturuti permintaan fikiran dan
tenggorokan yang sedang satu suara ini – meminta untuk diberikan kesejukan. Walau
begitu tetap saja, aku masih harus berjalan terlebih dahulu untuk sampai ke
kedai kopi dan teh yang aku incar tersebut. Tak mengapa, tinggal 300 meter
lagi.
Akhirnya langkah kakiku sampai
ke tempat tujuan nomor dua, sebab tujuan utamaku berjalan kaki di tengah terik
matahari adalah bukan ke kedai ini. Kutarik pintu kedai itu perlahan, dan
voila, ramai sekali. Kulirik arlojiku untuk memastikan apakah keramaian di
kedai minuman sekarang ini singkron dengan waktu yang ditunjukan. Pukul 12.30,
masih sebuah waku yang tepat untuk jam istirahat – dengan agenda makan dan
ngobrol bersama kerabat.
Berdiri pada antrian nomor 3
dari depan kurasa tidak akan lama. Sembari menunggu antrian aku melihat menu
minuman yang terpampang di papan menu tersebut. Papan menu yang letaknya diatas
barista masih cukup tertangkap oleh kedua mataku, walau aku harus memperhatikan
lebih detail kata-kata dalam menunya. Aku tidak hafal menu makanan dan minuman
disini, maka dari itu aku harus selalu membaca menu agar aku kembali ingat
minuman teh susu yang aku pesan kala itu. Aku merupakan tipikal manusia yang
apabila sudah menyukai suatu jenis tertentu, aku akan selalu memesan atau
membeli sesuatu tersebut hingga aku bosan. Ketika aku bosan, akupun mulai
mencoba untuk berganti kepada sesuatu yang lain. Ya, itulah aku.
“Vanilla milk tea, satu. Less ice ya, mas” ucapku begitu tiba
giliranku untuk memesan. Kasir itu menurut. Tidak berselang lama akupun
mendapat minuman yang sedang menjadi favoritku di kedai makanan dan minuman
ini. Aku sengaja memilih untuk take away
minuman tersebut, agar aku tidak perlu berlama-lama berada di tempat ini dengan
alasan aku sedang tidak punya waktu banyak untuk me-time, serta tempat ini sedang tidak cukup kondusif untuk menulis.
Aku pun segera keluar dari
antrian begitu aku membayar minumanku. Namun, ketika aku baru berjalan beberapa
langkah untuk beranjak pergi dari tempat ini, ada suatu hal yang membuatku
cukup ingin memberikan perhatian lebih sejenak akan hal itu. ‘Pojok Puisi?’
batinku. Aku segera ke tempat kecil tersebut. Apabila kau baru masuk dari kedai
makanan dan minuman kecil ini, kau harus langsung menoleh ke arah kiri untuk melihat
sebuah tempat kecil yang berada di pojokan jendela. Sangat unik, fikirku. Tempat
itu berisikan sebuah meja kecil berwarna coklat muda yang diatasnya disediakan
beberapa lembar kertas warna warni, pulpen warna warni, selotip beserta
tempatnya, dan hiasan bunga kecil dalam pot. Sekitar 30 cm dari atas meja,
terdapat papan yang tertempel di dinding (seperti mading) kecil yang tidak
terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, sehingga pas untuk orang yang ingin
membaca. Di atas papan itu terdapat tulisan ‘Pojok Puisi’ dengan beberapa puisi
sederhana dari orang-orang yang mampir kesini.
‘Pasti orang yang membuat
Pojok Puisi ini, dia gemar berpuisi juga, tidak hanya gemar menyeruput kopi’
aku menerka, ‘Dan yang membuat Pojok Puisi ini tahu saja, para pecinta puisi
paling suka menciptakan puisinya di pojokkan jendela, terlebih aku. Sebab pojokkan
jendela memang tempat yang paling pas untuk menciptakan puisi’. Ingin rasanya
aku meninggalkan puisiku disini. tapi apakah Pojok Puisi ini merupakan tempat
umum? Mungkin sebaiknya aku baca puisi-puisi yang sudah terpajang di papan ini
terlebih dahulu. Apabila penulisnya berbeda kemungkinan besar Pojok Puisi ini
memang diperuntukkan untuk umum, terutama untuk yang gemar berpuisi.
Aku pun membaca satu per satu
puisi tersebut secara perlahan dan memperhatikan siapa penulis-penulisnya. Ketika
aku sedang membaca salah satu puisi di papan itu, tiba-tiba ada seorang
laki-laki berkaos merah marun lengan panjang yang ia gulung hingga ke sikunya –
mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen – dan berdiri tepat di sampingku. Ia
tidak memberi sinyal agar aku menggeser badanku, tetapi dengan refleks aku
menggeser tubuhku sedikit agar laki-laki itu tidak menyenggol tubuhku yang
mungil. Tidak berselang lama ia pergi ke kursinya kembali. Maka dari itu bisa
aku bisa menyimpulkan bahwa Pojok Puisi ini memang diperuntukan untuk siapa
saja yang ingin menyalurkan puisinya. Tanpa berfikir panjang aku segera
mengambil selembar kertas berwarna merah muda dengan pulpen hitam, dan langsung
menuliskan sebait puisi di atas meja tersebut.
Kau
Kau sama dengan
mentari siang hari ini
Walau terik,
semua orang masih membutuhkan kehadiranmu
Kau pun sama
dengan minuman yang kupesan di kedai ini
Dingin, manis,
dan akan selalu menjadi favoritku
-Ryn
Puisi kecil itu
langsung aku tempelkan ke papan dengan selotip. Aku senyum-senyum sendiri
memperhatikan puisi kecilku yang telah terpasang disana, sebab itu berarti
kemungkinan besar aku akan sering mampir ke kedai makanan dan minuman ini –
terlebih ke Pojok Puisi ini. Selain membeli makanan atau minuman favoritku, aku
akan lebih sering berpuisi di tempat ini. Sendirian mungkin akan lebih
menyenangkan apabila kedai ini sepi. “Puisi satu bait yang bagus” ucap
seseorang yang membuyarkan lamunanku tadi. Rupanya laki-laki berkaos merah
marun itu kembali ke Pojok Puisi ini. Ia meletakkan kembali pulpen bertinta
biru itu dan ikut menempelkan puisinya di papan. Refleks aku menoleh ke arahnya,
diam. “Suka menulis puisi juga?” tanyanya memulai percakapan. Aku memilih untuk
tidak menjawab karena aku merupakan tipe manusia yang tidak bisa langsung dekat
dengan orang yang baru dikenal. Kebungkamanku ini membuatku langsung teringat
satu hal bahwa aku harus kembali ke tempat tujuan awal dan utama yaitu kampusku.
Aku menoleh arlojiku, pukul 12.50, sementara perkuliahanku dimulai pada pukul 1
siang. “ Terima kasih. Tapi permisi, saya harus duluan” pamitku kepadanya agar
masih dianggap sopan. Aku membelakanginya dan perlahan berjalan pergi
meninggalkannya sambil membawa Vanilla Milk Tea yang sedari tadi belum kuminum.
“Kapan-kapan aku baca puisimu lagi ya, Ryn”. Aku sedikit terlonjak dengan
ucapannya. Namun bukan berarti aku menoleh dan menjawab pernyataannya itu. Aku tetap
pergi dari kedai itu segera.
