Dekat (Dengan Jarak)

(2) Temaramnya Matahari

Matahari yang dulu ufuknya selalu dirindukan
Di balik bukit, ia berusaha selalu ada
Entah aku yang menunggu, atau pun ia

Sesaat dan perlahan, cahaya temaramnya redup
Di balik awan, rupanya mengumpat secara sengaja
Katanya, jangan tunggu aku lagi
Aku berusaha baik-baik saja

            Puisi itu kutulis beberapa hari setelah aku memberi jawaban mengenai pertanyaannya pada malam itu. Tak banyak orang yang paham mengenai susahnya mengungkapkan sebuah kata-kata lewat ucapan, sehingga akupun lebih memilih menuliskannya – lewat puisi – kurasa terasa akan jauh lebih baik.
            Aku pernah mengatakan, bahwa aku menyukai hujan disebabkan oleh karenanya, setiap hujan yang datang, aku selalu menganggap bahwa dia adalah salah satu rintik air dalam hujan. Lantas, apakah kalian menyadari korelasi antara rintik hujan dengan temaramnya matahari pada puisiku?
Jawabannya adalah mereka sama. Rintik hujan yang datang adalah hanya untuk terjatuh, sementara temaramnya matahari hanya untuk menenggelamkan. Jatuh dan tenggelam, sama-sama akan menjadi hilang, sama-sama membawa kesedihan.
Di musim penghujan aku semakin merasakan dingin yang cukup menyelimuti seluruh tubuhku terutama telapak tangan. Bukan permasalahan aku sedang sendiri, melainkan rupanya aku baru menyadari akan adanya sepi. Aku berusaha menghela nafas sambil terus berjalan kecil menghadang angin dan daun beterbangan. Ia – yang merupakan sosok yang sselalu hadir menyapa pagi, hilang bak tidak pernah ada di bumi. Ia memang ada, raganya. Namun jiwanya seolah hilang. Selepas pertemuan di bandara, kami tidak pernah bertemu lagi walau hanya sekedar untuk menyapa dan minum coklat hangat bersama.

Tenang, Tama. Aku baik-baik saja, dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Postingan Populer