Dekat (dengan Jarak)

(1) Kepulanganmu

Sebuah mendung menyapa pagi hari di sebuah kota tempat tinggalku. Aku menyukainya. Aku menyukai mendung dengan hujannya. Aku menyukai mendung dengan aroma tanah, kesejukan dan dedaunan yang berjatuhan perlahan. Aku menyukai mendung dengan awan kelabunya karena awan kelabu itu menutupi matahari. Aku menyukai mendung karena mendung adalah alasan pertamaku untuk bertemu denganmu.
Mendung memang tidak berarti hujan – aku tidak bisa menerka. Begitu juga dengan kehidupan yang memang tidak bisa diterka esok harinya. Seperti biasa, aku membuat secangkir coklat sebelum berangkat kuliah. Bagiku secangkir coklat cukup untuk mengisi kehangatan perutku walaupun aku sering dimarahi ibu karena tidak sarapan. Sarapanku memang sederhana, hanya secangkir coklat, dan…
‘Tumben enggak ada chat dari dia’ batinku sambil menyeruput hangatnya coklat. Biasanya ia selalu memberiku sebuah pesan singkat yang membuatku semangat dipagi hari, walau memang tidak setiap hari. Mungkin ia masih tidur, gumamku. Padahal, aku ingin mengatakan bahwa sarapanku hanyalah secangkir coklat dan sapaan hangat darinya dipagi hari.
Hari ini adalah ujian terakhirku. Aku tak berharap banyak pada hasilnya, yang terpenting aku telah mengerjakan semua ujianku semaksimal mungkin. Akupun memilih untuk mematikan handphoneku agar aku bisa berkonsentrasi ujian. Ujianku berakhir pada pukul 11 siang, cuaca saat ini masih mendung diiringi gerimis kecil.  
Setelah berakhirnya ujian, aku kembali menyalakan handphoneku yang beberapa jam sebelumnya dimatikan. Tiba-tiba handphoneku penuh dengan notif yang sangat banyak hanya dari satu orang, langsung kuperiksa walau pesan itu belum kubuka – rupanya ia orang yang aku cari tadi pagi. Aku tersenyum kecil, ‘dasar tukang spam!’
Seseorang menepuk bahuku ringan, “Ataya, mau makan siang bareng kita?” tanya temanku yang seperti biasa saling menawarkan makan siang bersama. Aku manggut-manggut, “aku ikut kalian aja, mau makan dimana?, “karena hari ini hari terakhir ujian, kita makan di restoran Jepang yuk!” timpal temanku yang lain. Semua pun setuju. Gerimis rupanya tidak meghalangi kami untuk mengisi perut yang sudah keroncongan akibat teruras karena ujian tadi.
Kami pergi dengan berjalan kaki, karena jarak dari kampus ke restoran Jepang langganan itu memang tidak terlalu jauh. Gerimis perlahan-lahan semakin mengecil, hanya meninggalkan setetes demi setetes butiran air. Mungkin awan kelabu itu telah tertiup angin – entah pergi kepada yang lain, atau pada akhirnya ia akan hilang karena ia tidak ingin manusia menjadi sendu berlama-lama hari ini. Namun, aku akan senang meski harus sendu seharian dan sendirian – karena aku telah terbiasa seperti itu.
Waktu telah menunjukkan pukul 2 siang, berlalu dengan sangat cepat. Seperti itulah memang apabila kita pergi dan berkumpul dengan teman-teman, seakan kita baru berada di tempat itu selama beberapa menit padahal ternyata kita telah menghabiskan waktu beberapa jam hanya untuk berbincang. Karena menyadari bahwa sudah cukup lama berada di restoran itu, aku dan teman-teman memutuskan untuk pulang dan berjalan kaki menuju halte bus.
Oh iya, aku lupa! Selama makan siang tadi tadi aku belum memeriksa isi spam chat itu. Tidak berapa lama begitu aku membuka handphone, ia bordering. Ada sebuah telfon dari seseorang yang mengirimiku pesan singkat tadi pagi. Tepat sekali, aku jadi tidak perlu membalas chatnya yang sangat banyak itu.
“Aku hari ini pulang, dan sekarang sedang transit. Aku akan tiba di bandara Soetta sekitar jam 7 malam. Apakah kau bisa menjemputku, Ya? Aku mau kau yang menjemputku” tanyanya setelah beberapa kali kami berbincang, “Tenang kok nanti ada Pak Supri juga yang akan mengantarmu dari rumah ke bandara”. Aku tercengang. Dia pulang?  Mengapa ia tidak mengabariku sebelumnya? Tumben sekali ia tidak mengabariku bahwa ia akan pulang hari ini, bahkan tiba-tiba.
“Taya, kok kamu diem aja?” tanyanya lagi, rupanya aku baru sadar bahwa aku sedang melamun heran. “I..iya bisa kok. Tapi aku izin ke ibu dulu ya” jawabku. “ mau kamu pergi semalam apapun, kalau ada aku pasti dibolehin, karena sama aku kamu pasti aman” ujarnya dengan percaya diri. Aku hanya tertawa ringan sambil duduk di dalam halte bus. Dia, memang orang yang selalu membuatku tertawa lepas dengan candaan khasnya yang percaya diri.
 –Sampai bertemu di Bandara, Tama. Hati-hati selama di pesawat. Aku merindukanmu–
            Soekarno-Hatta, 2 Juli 2017 – Pukul 19.00
            Bandara adalah sebuah tempat yang sangat jarang aku singgahi, karena aku memang  bukan anak perantau yang notabenenya pergi dan pulang menggunakkan pesawat. Aku juga sangat jarang mempunyai urusan yang berhubungan di bandara, seperti misalkan menjemput seseorang. Terakhir aku ke bandara adalah ketika aku pergi ke rumah saudaraku yang berada di Kalimantan, itupun sewaktu aku masih SMA. Mungkin, pergi ke bandara rasanya masih bisa dihitung menggunakkan jari tanganku.
            Suasana di bandara, ramai-ramai sepi. Ramai karena banyak orang-orang lalu lalang dengan berbagai macam tas dan kopornya yang mereka bawa dengan segala kepentingan mereka. Ramai karena di bandara inilah, orang-orang dapat bertemu kembali seseorang yang mereka rindukan selama ini. Namun, bandara ini akan menjadi terasa sepi apabila kau melepas pergi seseorang yang kau sayangi– berharap bahwa seseorang itu akan sampai tujuan dengan selamat. Dan sepi, karena aku sendiri sementara Pak Supri sedang menikmati putungan rokoknya di sekitaran luar bandara agar ia merasa hangat.
Sekali lagi aku melirik jam tanganku yang berwarna merah muda. Sedari dari tadi aku memang melirik jam tanganku dengan gelisah karena ini adalah kali pertama aku menjemputnya di bandara, dan menurutku juga ini adalah kali pertama aku diperbolehkan untuk pergi pada malam hari oleh ibuku. Malam ini aku memakai kaos lengan panjang berwarna coklat, dengan ditutupi jaket hitam, celana jeans, dan sepatu kets. Aku memilih untuk memakai jaket karena cuaca hari ini yang memang masih mendung-mendung redup, gerimis, dingin.
            Aku menunggu sembari duduk, kemudian iseng menengok kanan dan kiri beberapa kali untuk melihat dimana keberadaannya, namun batang hidungnya rupanya belum nampak juga. Sudah pukul 19.20. Baiklah, sebaiknya aku menelfonnya saja untuk menanyakan dimana ia berada.
            “ Sudah menunggu daritadi ya sampai mencemaskanku begitu?” tanya seseorang yang suaranya ada disampingku. Aku yang semula menelfon dengan wajah menunduk tiba-tiba mendongak kaget, “Tama!” teriakku kencang sambil mencubit tangannya kesal karena ia telah mengagetkanku. Iapun meringis kesakitan. “Bukannya memeluk orang yang sudah lama tidak bertemu denganmu untuk melepas rindu, ini malah dicubit” ucapnya sambil duduk disampingku. Aku menghela nafas, “kamu tuh bikin aku kaget saja, dan selalu membuatku kaget”. Padahal dalam batinku, ‘iya Tama, aku ingin. Namun aku malu’
            Ia tertawa kecil. Kini aku bisa melihat tawanya secara langsung tanpa harus melalui video call. Aku, begitu merindukan tawa dan senyumnya yang khas dari seorang yang humoris sepertinya, tapi aku harus menahan sesuatu yang tidak diketahuinya. Tenang saja, ini bukan soal perasaan. “Oh iya, kamu sudah makan malam? Makan yuk” ajaknya membuyarkan lamunanku, aku mengiyakan. Tidak berapa lama kami pun pergi meninggalkan bandara.
            Kami berhenti di tempat sebuah restoran yang bisa dijadikan tempat tongkrongan oleh anak muda, dengan menu makanan Indonesia seperti roti bakar, nasi goreng, bakso, hingga mie. Tidak berselang lama kami duduk di sebuah tempat dekat jendela bersama Pak Supri, kemudian memesan makanan yang ada di menu. Setelah memesan kami saling terdiam. “Ataya” panggilnya memecah keheningan yang ada diantara kami. “Iya?” balasku. “Terima kasih sudah mau menjemputku malam-malam” katanya sambil tersenyum kecil, “Untuk Pak Supri juga terima kasih ya, sudah mau menjemput saya dan Ataya”. “Ah, kamu seperti sama siapa aja toh, Dek. Bapak mau ke toilet dulu sebentar ya, kebelet” Pak Supri memukul ringan bahu Tama, kemudian pergi dan hanya menyisakan kami berdua.
            Jam menunjukkan pukul 8 malam, suasana sendu masih terasa di restoran ini – walaupun kebanyakan isinya anak muda. Ada yang sedang bercanda sambil menunggu pesanan tiba, bercerita satu sama lain, hingga makan malam bersama. “Ataya, apa gaada yang mau diceritakan kepadaku tentang kegiatanmu, kuliahmu, atau teman-temanmu saat ini?” begitulah Tama,  ia anak yang suka mendengarkan cerita orang lain dibandingkan ia bercerita tentang cerita dirinya sendiri, “Hmm…minggu-minggu ini aku tidak sedang berkegiatan apa-apa, hanya kuliah seperti biasa lalu pulang. Mungkin kalau aku ada suatu kegiatan seperti menjadi panitia acara aku akan bercerita padamu” jawabku santai. Tama nampak tidak setuju dengan pernyataanku barusan, “Memang aku baru setahun atau dua tahun mengenalmu? Kamu itu orang yang harus dipancing pertanyaan dulu baru mau bercerita. Sampai kapan sih kamu akan menjadi orang pendiam dan pemalu sama aku?”. “Aku…” baru saja aku ingin menjelaskan, tiba-tiba omonganku terpotong oleh sebuah pertanyaan tegasnya yang membuatku berfikir walau pada akhirnya tidak dapat berfikir, “Menurutmu, sebenarnya siapa aku ini dimatamu selama ini?”

–Pada malam itu, jangankan bisa berfikir, nadiku bisa berdenyut saja pun rasanya tidak–

Postingan Populer