Cerpen

Minggu, 12 juni 2016

-Tempat Aku Mencintaimu-

Banyak orang bilang bahwa kebanyakan orang lebih banyak jatuh cinta pada kesan pertama dibandingkan dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Entah mengapa aku tidak sependapat akan hal itu. Aku jatuh cinta dengan seseorang pada pandangan pertama. Pada gadis mungil berkacamata itu. Gadis yang kini tengah duduk di sebuah kursi stasiun, bersama dengan buku bacaannya yang tengah ia baca. Kuyakin ia tengah mengimajinasikan alur cerita dalam buku tersebut.

Ku tatap gadis itu lamat-lamat dari seberang. Kami tepisah kira-kira sejauh 5 meter walau kami masih berada pada satu stasiun. Kami berbeda peron. Rel kereta apilah yang memisahkan aku dan dia. Aku dan gadis itu. Aku baru bertemu dengannya sore ini. Sore yang sedang sibuk-sibuknya dengan kehirukpikukan orang pinggiran kota yang ingin pulang ke rumah – bertemu anak dan keluarga lainnya. Di tengah hiruk pikuk yang padat seperti ini, ia masih sempat membaca buku? Apakah ia bisa fokus dengan bacaan tersebut?

Aku yang juga tengah duduk dari seberang rupanya masih menatapnya. Aku bertanya dalam hati, ‘apa yang sedang gadis itu lakukan sebenarnya? Tidak mungkin ia pergi ke stasiun hanya untuk membaca. Apakah yang ia lakukan sebenarnya adalah menunggu? Namun menunggu siapa?’ aku penasaran. Sudah 20 menit aku duduk hanya ditemani dengan sekaleng kopi instant yang aku beli di minimarket stasiun – bahkan yang tadinya kopi itu baru kubuka, sampai habis, gadis itu belum beranjak dari kursinya juga. Masih membaca. Entah apa buku yang ia baca. Sebuah buku novelkah?

Tanpa tersadar rupanya aku sedang melamun. Maksudnya aku tidak tersadar bahwa aku sedang melamun. Akupun tersadar ketika ada seorang bapak-bapak yang kira-kira berumur 35 tahun duduk disebelahku, bersama seorang anak kecil yang kira-kira berusia 2-3 tahun. Seorang bapak-bapak muda. Aku tersentak kaget, segera aku menggeser posisi dudukku agar ia pun bisa duduk. Ia tersenyum kepadaku kemudian menyapa basa-basi, “baru pulang kuliah, de?”. Sepertinya ia orang yang ramah. Aku menoleh, “eh, bukan kuliah pak, saya sudah kerja, hehe”. Rupanya bapak-bapak itu sedikit terkejut, “tampangnya masih muda ya, kirain masih kuliah”. “ hehe” aku hanya memasang muka bodohku. Usiaku sudah menginjak 27 tahun.

Lima menit aku dan bapak-bapak itu terdiam, seperti sudah tidak ada topik pembahasan. Aku memang tidak berminat untuk bertanya kepada orang asing yang tidak kukenal, walaupun kesan pertama yang kulihat dia merupakan orang yang ramah. Namun karena diantara kami sangat hening, maka aku memberanikan diri untuk bertanya, walau hanya sekedar basa-basi.

“anaknya, pak?” tanyaku kepada bapak itu.

“ iya, anak saya yang pertama” jawabnya sambil mengelus-elus rambut anaknya yang keriwil.

“ anaknya pintar ya, pak, tidak merengek. Biasanya anak kecil kalau dibawa ke tempat ramai seperti ini akan merengek atau nangis”

“ iya mas, dia tidak akan nangis jika ada makanan. kalau makanannya habis, dia akan menangis lagi. Makanya saya bawa banyak makanan”

Mendengar jawaban itu, aku jadi teringat dengan cerita ibuku yang bilang bahwa semasa aku kecil, apabila aku dibawa kemana pun pasti menangis –walaupun itu hanya pergi ke rumah teman ibu yang jaraknya dekat. Aku memang cengeng, padahal sudah diberi makanan ringan atau minum susu masih saja merengek. “Dasar kamu, Tyo. Dari kecil sudah merepotkan ibu. Awas kalau sampai sudah dewasa pun kamu masih merepotkan orang tuamu” begitulah ibu menutup cerita kala itu. Waktu itu usiaku 21 tahun.

“ saya duluan ya, mas. Keretanya sudah tiba” pamit bapak-bapak itu kepadaku. Aku tersenyum. Mereka melangkah maju dan masuk menuju gerbong kereta nomor 4.

            Oh ya, sampai dimana tadi? Gadis itu? Dimanakah gadis itu? Ah sial. Aku tidak dapat melihat gadis itu karena terhalang oleh kereta yang sedang berhenti tepat di depanku ini. Aku berharap agar keretanya segera melaju, 'ayo cepat jalan' harapku cemas. Kereta itu bukanlah kereta tujuanku, sangat berbeda jauh. Kereta tujuanku bukanlah kereta dengan tujuan jauh hingga berbeda provinsi. Tidak. Tujuanku masih sama-sama dari Jakarta menuju Jakarta.
Suara lonceng khas kereta (lonceng atau sirene entahlah, biarlah aku menyebutnya apa) pun akhirnya berbunyi, menandakan bahwa kereta dengan tujuan jauh itu akan berjalan. 'Akhirnya kereta itu jalan juga' ucapku lega. Kini tidak ada penghalang apapun lagi yang menghalangi pandanganku untuk kembali menatap gadis itu. Aku tersenyum kecil, sebentar. Tidak berapa lama senyumanku terenggut kembali. Bukan karena pandanganku terhalang kembali oleh kereta, melainkan hatiku yang terhalang oleh seorang laki-laki yang tengah berdiri menghadap gadis itu.

'Siapa ia?' tanyaku bodoh. Lagi-lagi aku bertanya kepada diri sendiri. Pertanyaan yang tidak akan mendapatkan jawaban. Kini pandanganku ada dua, satu kepada gadis itu dan satu kepada laki-laki berkemeja biru cerah tersebut. Aku menatap mereka, aku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Laki-laki itu siapa? Tanyaku lagi. Kini aku tak peduli apakah aku mendapat jawaban dari pertanyaanku barusan. Yang jelas, kini kondisi hatiku berbeda.

Aku baru saja jatuh cinta, dan aku baru saja behasil membuktikan sebuah teori yang salah dari orang-orang yang tersebut. Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Tidak, aku tidak semudah itu menaruh hatiku kepada seorang perempuan, bahkan dari usiaku yang sudah menginjak remaja. Namun entah mengapa, gadis itu, membuatku mencintai dengan cara yang cepat dan berbeda. Entah ini namanya apa, mencintai atau mengagumi, dua hal yang tidak jauh berbeda.

Ku tatap mereka dari seberang peron, gadis itu merekahkan senyumannya, kemudian tertawa. Senyuman yang pertama kali kulihat. Manis sekali. Lebih manis dari kembang gula. Namun sayang, senyuman itu bukan untukku, tapi untuk laki-laki itu. Mungkin laki-laki itu telah membuat sebuah humor–dengan caranya. Tak apa, kali ini gadis itu tersenyum dari laki-laki itu. Namun suatu saat –entah kapan–aku bisa membuat ia tersenyum juga, bahkan tertawa, dan mungkin bahagia. (Suatu saat. Entah kapan, atau bahkan tidak akan pernah sama sekali)

Jatuh cinta dalam diam, memang tidak jauh berbeda dengan mengagumi. Mereka sama-sama bodoh, sama-sama membuang waktu, sama-sama bertepuk. Entahlah aku menyebut ini dengan apa. Namun hatiku berkata bahwa aku tidak hanya sekedar mengagumi, melainkan mencintainya–walau aku belum tahu gadis itu siapa. Apakah ini namanya, cinta di seberang peron?

Di stasiun kini gerimis, gerimis yang semakin lama semakin deras menjadi hujan. Padahal siang tadi sangat terik. Entahlah, aku masih tidak paham mengenai wilayah yang padat dengan gedung-gedung, kendaraan, dan manusia-manusia yang haus akan waktu ini –Karena aku memang bukan asli warga Jakarta. Jakarta, kota yang menurutku penuh dengan sebuah penantian dan harap-harap cemas.

Kini gadis itu beranjak dari kursinya. Berdiri, kemudian dirangkulnya pundak gadis itu dengan lembut oleh laki-laki berkemeja biru cerah itu–seakan tak boleh ada yang memiliki gadis tersebut kecuali dirinya. Aku ingin menatapnya sekali lagi. Namun sayang, kereta kembali mengahalangiku dengan cepat. Baiklah, besok aku akan kesini lagi, dengan tempat dan waktu yang sama–di kursi ini pukul tiga. Kini aku paham, gadis itu memang sedang menunggu seseorang.


Kemeja biru cerah itu tidak secerah sore hari ini. 

Postingan Populer