cerpen
No T.itt.le N.ee.d.ed
Ada hari, yang dimana hari itu sangat menyenangkan. Sampai-sampai
rasanya kau ingin mengulang waktu tersebut secara terus menerus. Bahkan kau pun
sampai lupa bahwa masih akan ada hari esok yang menanti. Atau bahkan, pada masa
itu kau ingin waktu berhenti pada hari itu saja. Namun sayang, waktu takkan
bisa berhenti, waktu takkan pernah terulang. Dan ia, takkan pernah kembali
kepadamu.
Tidak sudi memang, waktu memang terus bergulir – merentangkan masanya
yang tiada akhir. Walau begitu, suka atau tidak suka, sudi atau tidak suka kita
terhadap waktu, kita harus menerimanya. Lagipula dengan bergulirnya waktu, kau
akan semakin tahu masa depanmu seperti apa, bukan?
Waktu itu seperti jendela dengan gorden yang menutupi. Apabila kau
tidak ingin membuka gorden itu dan terus saja menutupnya, kau takkan pernah
bisa melihat mentari pagi hari. Seperti itulah waktu. Jika kau terus berada di
dalam bayang-bayang masa lalu, kau takkan pernah bisa melihat seperti apa masa
depan – yang itu berarti adalah mentari pagi hari.
Lain halnya dengan hari yang menyenangkan, pasti kau pun pernah
merasakan hari yang paling menyedihkan dalam hidupmu. Aku yakin kalian pernah
mengalami masa sulit itu. Karena di setiap ada yang membuatmu menyenangkan, pasti
akan ada yang juga yang menyedihkan.
Aku pernah mengalaminya. Mengalami hari, atau bahkan minggu yang paling
menyedihkan bagiku. Dimana aku terus saja menangis tiada henti . Aku merasa
seperti anak yang lemah (walau aku memang lemah), rapuh, dan tak ada
apa-apanya. Aku menangis di dalam kamar setiap hari – bahkan hampir di setiap waktu. Rupanya, sudah berulang kali aku seperti ini, bahkan hingga malam ini.
Entah mengapa aku merasa dijauhkan – dari sesuatu yang tadinya dekat,
dari sesuatu yang tadinya ada, dan dari sesuatu yang tadinya bergerak. Sesuatu yang
tadinya selalu bersama dan seirama – mendadak pergi, hilang, terbang entah kemana.
Ya, aku merasakan sekarang bahwa ada yang semakin jauh dariku. Entahlah itu apa
dan siapa. Dan saat ini aku hanya merasakan satu rasa, yaitu ketakutan. Ketakutan
yang selalu menakutiku hingga membuatku takut dan semakin takut.
Dan pada akhirnya yang datang akan pergi
Yang dekat menjadi jauh
Yang awalnya ada, akan menghilang
Ternyata teori itu benar
‘Kita bertemu, hanya untuk ditakdirkan berpisah’
