cerpen
Sabtu,
3 Januari 2015
Rainy
Day
Aku berjalan diantara rinai hujan. Bersama sebuah
payung merah yang tengah kugenggam erat, aku menapakkan kakiku diantara jalanan
yang telah bergelimang air hujan. Hujan kali ini deras, begitu derasnya
sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa kecuali sepatuku yang telah basah. Bahkan
angin saja hampir membawa payungku pergi - mungkin karena angin itu ingin aku
sendiri di tempat yang sedang porak poranda ini.
Aku hanya bisa bergantung kepada payungku ini untuk
menghindari dari rintikkan air langit itu. Tapi ternyata hasilnya nihil. aku
basah, aku kehujanan. Seluruh tubuhku penuh dengan air, begitu juga dengan
pakaian dan tas selempangku. Aku pun kedinginan, menggigil rasanya hingga
tanganku mati rasa. Bahkan kini aku tak dapat merasakan ada sesuatu yang sedang
ku genggam di tanganku saat ini.
Aku merasakan tubuhku yang teramat bergetar. aku
ingin cepat-cepat sampai rumah, namun apakah langkah kakiku ini bisa untuk
melangkah walau sedikit demi sedikit?
***
Hujan. Aku suka bunyi hujan. Bunyinya membuatku
teduh. Membuatku selalu ingin terdiam. Membuatku selalu ingin mendengarkan, dan
menikmati bagaimana hujan itu bercerita. Ketika hujan sedang turun, kemudian
tubuhnya bersentuhan dengan rumput, pohon, tanah, dan atap, bunyinya itu
berbeda. Sehingga cerita-cerita di setiap nadanya juga berbeda pula. Apakah kau
pernah mendengar hujan bercerita?
Bunyi hujan juga seperti sebuah iringan musik. Bernada
dan berima, begitu syahdu didengar apabila tidak ada petir dan angin yang
menyertainya. Mereka berbunyi, namun tak ada ketukan di setiap alunannya. Mereka
berbunyi bebas, tak terikat oleh apapun. Mereka bebas bercerita kepada siapa
pun, dan tentang apapun. Itu sebabnya aku menyukai hujan.
Aku pun suka bau hujan. Aromanya itu membuatku
tenang apabila ia telah sampai di bumi – terutama tanah atau rerumputan liar. Tenang,
itulah hal yang benar-benar aku rasakan selama aku menghirup aromanya,
menghirup baunya yang telah terjatuh ke permukaan.
Menurutku, hujan itu membuat semua orang berbicara
jujur apa adanya. Dengan hujan, semua orang bercerita dan memulai percakapan
hangatnya– walau nyatanya ada juga yang sedang sendirian terpaku menatap
jendela kala hujan sedang menyapa mereka di balik jendela kamar.
Dan bagiku, hujan itu adalah...
Sebuah kenangan. Karena di setiap tetes hujan,
selalu saja ada hal yang selalu aku ingat. Apapun itu, cerita-cerita yang dulu,
yang kemarin, dan cerita pada hari ini. Cerita-cerita itu selalu saja singgah di
dalam pikiranku begitu hujan turun. Dan terkadang hujan itu membuatku
tersenyum, namun aku lebih banyak menangis jika ia datang.
Mungkin apakah karena langit sedang menangis,
sehingga mereka pun bercerita kepadaku mengenai hal yang sedih pula?
***
Diatas jalan yang telah penuh dengan linangan air, tubuhku
terbaring kaku disini. Ternyata benar apa yang aku katakan, kakiku ini tidak
kuat lagi untuk melangkah menuju rumah. Tubuhku pucat dan membiru, mataku tertutup,
dan aku terkulai lemas. Kini aku dapat melihat wajah dan tubuhku sendiri tanpa
cermin. Aku melihat ragaku yang sedang terbaring, hey, hujan kali ini
benar-benar membuatku mengeluarkan setitik airmata untuk yang terakhir kali. Mengapa
aku begitu gemar menangis bahkan disaat terakhir kali sebelum jiwaku pergi?
