Puisi





Di dalam Bis Itu, Hanya Ada Kita Berdua

Dalam siang yang terik
Kami masih mengenakan seragam sekolah, seragam abu-abu
Aku memandang jendela, melihat jalan ibu kota
Ahh... lagi-lagi keramaian itu
Membuatku semakin panas saja
      
Di dalam bis kami saling terdiam
Tanpa kata, tanpa saling memandang
Entah apa yang ia lakukan, nampaknya pun aku tidak peduli
Walau sebenarnya aku ingin memandangnya

Kuputar lagu dalam mp3 kecilku, lagu itupun mengalun
Earphone telah siap mengadu dalam telingaku
Aku pun menawarkan sebelah earphoneku padanya, namun aku tersontak
Bahwa ia telah tertidur pulas

Okay, mungkin dia kelelahan setelah selama ini ia serius belajar, gumamku
Akupun mendengarkan lagu itu seorang diri
Masih menatap jendela di balik bis kota
Kembali, menatap jalan ibu kota


Selama beberapa menit aku terdiam
Namun entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berat di bahu kananku
Aku pun melirik, dan ternyata siapa sangka
Kepalanya berbaring di pundakku

Aku menarik napas panjang, seluruh tubuhku mendadak kaku
Wajahku pucat, napasku menjadi tersengal
Dan tanpa sadar, airmata keluar dari ujung kedua mataku
Aku ingin dekat denganmu, namun mengapa harus sedekat ini?

Ia dipundakku sekarang, rambutnya membelai rambutku
Belum pernah kami sedekat ini sebelumnya, batinku tak percaya
Aku kembali meliriknya lagi, tanpa merubah posisi dudukku
Dan aku merasakan helaan napasnya yang berhembus di pundakku

Kenapa harus sekarang? Tanyaku dalam hati
Mengapa disaat seperti ini?
Disaat aku ingin menjauhimu, namun kau malah melangkah dekat
Entahlah, sampai seberapa lama kami akan sedekat ini

hanya sebuah puisi sederhana – bukan untuk siapa-siapa
16 desember 2014









Postingan Populer