cerpen



Cerita Seorang Gadis Muda kepada Isi Hatinya

Ketika kamu dilibatkan dalam dua pilihan, yang dimana kamu harus memilih salah satu– dan  pilihan itu membingungkan. Apa yang akan kau lakukan? Memilih? Pilihan mana yang akan kau pilih? Dan apakah kau yakin, pilihanmu itu sesuai apa yang kau harapkan?

Kau begitu ragu, sebab diantara keduanya begitu kuat. Kau bimbang diantara kedua pilihan itu. Sebab diantara kedua itu sama-sama nyata. Dan kini kau memegangnya dengan kedua tanganmu pada satu sisi yang berbeda. Kau harus melepaskan salah satu diantara itu. Kau tidak boleh terikat oleh keduanya. Kau tidak boleh memegang keduanya.

Yang kau perlukan adalah memilih, atau melepaskan sesuatu itu. Kau bahkan tak tahu juga mana yang ingin kau pilih? Mengapa kau begitu ragu? Cepat pilih salah satu itu. Kau ingin tetap menggenggam sisi yang berada di tangan kananmu, atau melepaskannya begitu saja?! cepat pilih! Ini adalah sebuah pilihan, dan kedua ini bukan pula milikmu. Maka kau harus merelekannya satu!

Aku tahu kau begitu berat memilih diantara kedua yang kau genggam. Aku tahu itu, dan betapa sulitnya hingga kau tidak merelakannya terlepas. Mengapa? Kau takut sesuatu itu akan menghilang? Apakah keduanya itu sangat berharga di matamu?  Aku yakin, diantara kedua yang berharga itu, pasti akan ada yang lebih berharga lagi. Tak mungkin keduanya. Mereka mempunyai perbedaan, pasti. Mereka pun mempunyai kelebihan, serta kekurangan.

Hey, mengapa kau terdiam, gadis muda? cepat bicara kepadaku! Setidaknya jika kau tidak ingin berbicara, cepat pilihlah salah satu itu. Aku benar-benar sudah lelah dengan semua ini. Tak ada gunanya lagi kau terdiam, gadis muda. kau harus memilih!

Di dalam jiwa aku melihatmu, kau sedang melinangkan airmatamu. Hey, mengapa kau menangis sekarang? Apakah aku terlalu menggertak? Apakah ini salahku kepadamu? Oh, maaf kalau begitu. Aku tidak bermaksud untuk melukai pikiranmu. Yang aku inginkan hanyalah ketegasanmu.

Kau bercerita kepadaku bahwa ternyata ini bukan salahku. Lantas ini salah siapa? Salah pikiranmu sendirikah? Wah, ternyata benar. Ini salah pikiranmu. Apa?! kau benar-benar tidak bisa memilih sekarang. Mengapa?

Apakah kau takut kehilangan dari yang kau genggam diantara kedua tanganmu itu?  Sudah kuduga. Aku tahu kau pasti masih bimbang. Aku tahu apa isi pikiranmu sekarang. Kau tidak ingin merelakan salah satu itu terlepas dari tanganmu karena, kaupun tak ingin kehilangan itu juga. Kan aku sudah katakan kepadamu, yang namanya memilih, berarti ada pula yang harus kau relakan.

Mulai sekarang, kau harus yakin kepada diriku – isi hatimu, sebagai apa yang ada di dalam dirimu. Kau tidak harus perlu meminta bantuan dari pikiranmu. Cukup aku, isi hati dalam jiwa dan ragamu. Bukan  semata-mata hanya logika. Karena suatu saat logika pun akan berpendapat yang beda. Ini hidupmu, ini jalan ceritamu. Dan aku adalah kau, bukan pikiranmu itu.

Postingan Populer