Cerita Pendek
Kamis, 21 agustus
2014
Cerita mengenai
cinta yang tiada pernah habisnya...
Pertama, di Sore Hari
Aku menghela nafas panjang – tidak berapa
lama setelah bel pulang berbunyi sebanyak 3 kali. ‘akhirnya pulang juga’
batinku. Entah mengapa hari ini aku merasa lelah dan ingin cepat-cepat pulang
ke rumah. Namun ternyata aku baru sadar – bahwa aku tidak ada teman pulang.
Akupun merapihkan segala peralatan tulisku
beserta buku yang tidak tertata di atas meja, kemudian menutup relseleting tas
tersebut. Merangkul tas di atas pundakku, kemudian pergi keluar kelas – setelah
berpamitan kepada teman-temanku, “ aku pulang ya” pamitku.
Sambil berjalan aku mengambil headsetku
dari saku jaket merah muda bergarisku. Headset itu baru saja aku pakai tadi
ketika jam istirahat. Dan aku segera mendengarkan lagu yang baru saja aku
mainkan.
Di dalam bis kota, aku menikmati setiap
lagu yang diputar. Sesekali membuka timeline twitter karena bosan dalam
perjalanan. Namun tiba-tiba handponeku bergetar beberapa saat – aku yakin itu
merupakan sebuah pesan singkat.
“ hai,
kamu sudah pulang sekolah? Aku sudah di halte loh. Baru saja naik bis”
begitulah isi dari pesan singkat itu.
Mataku langsung terbelalak, begitu aku tahu
isi pesan singkat itu – sebab bisku belum jauh berjalan dari halte tempat aku
menunggu tadi. Untung saja, ia baru naik bis dan masih di area halte-mungkin.
Karena aku yakin bahwa aku yang akan tiba duluan.
“ aku juga
baru naik bis”jawabku singkat, “ mungkin aku yang akan sampai duluan”
Rasa gugup dan gelisah itu benar-benar
menyelimutiku. Walau aku yakin bahwa aku yang akan tiba duluan daripadanya di
halte terakhir – tempat aku biasa turun dari bis ketika pulang sekolah – namun
masih ada firasat bahwa aku akan kembali bertemu dengannya di halte terakhir
nanti.
Bis ini selalu berhenti jika setiap ada
halte yang melintas. Dan sekarang bisku sedang berhenti di sebuah halte kecil
untuk menaik-turunkan penumpang. Aku masih menikmati laguku ini dan berusaha
memejamkan mataku yang telah seharian melihat ribua angka – walau nyatanya tak
pernah bisa.
Akupun menoleh kearah pintu depan bis –
hanya sekedar mengecek seberapa banyak penumpang yang hilir mudik untuk turun
dan naik. Namun ternyata aku melihat seorang penumpang yang kukenal. Ya, orang
itu adalah seseorang yang baru mengirimiku pesan singkat tadi – Aby.
Aku segera tersontak kaget begitu
melihatnya. Seseorang yang sudah lama tidak pernah berjumpa denganku selama
satu tahun lebih itu – hadir dihadapanku – dan kini iapun juga tengah
menatapku.
Ia melihatku, aku yakin itu. Namun aku
segera membuang muka ke arah jendela. Dan untung saja sebuah kursi yang berada
di sebelahku itu telah terisi oleh seorang ibu-ibu – yang itu berarti ia tidak
bisa duduk di sebelahku.
Aku baru ingat, kalau setiap sekolah ia
memang selalu berganti bis sebanyak dua kali – dan selalu turun di halte kecil
ini untuk melanjutkan perjalanan pulangnya ke dalam bis lain. Namun aku
benar-benar lupa bahwa ia akan berada di halte kecil ini.
Namun, tunggu. Bukankah aku yang harusnya
tiba di halte terakhir duluan? Mengapa malah ia? Apakah bisnya melaju dengan
kecepatan tinggi sehingga ia juga dengan cepat berganti dengan bis lain? Namun
mengapa harus di dalam bis ini juga? Mengapa tidak dalam bis-bis yang lain yang
berada di belakang bisku?
Sedikit-sedikit aku mengintip ke arahnya –
aku penasaran dia duduk dimana. Dan ternyata setelah aku mengintip, ia duduk
dibarisan kiri dalam bis paling depan di dekat pintu – bersama dengan seorang
bapak-bapak yang sudah tua. Ia juga nampak membuang mukanya ke arah jendela – aku
yakin ia juga sedang merenungkan sesutu. Setelah itu aku kembali menoleh
jendela.
Pesan singkat itu tidak dibalas juga
olehnya – dan berarti seseorang yang tadi aku sangka sebagai dia adalah memang
benar dan aku tidak salah orang.
Tidak terasa perjalanan telah berakhir.
Kini bis ini telah berhenti di halte terakhir – dan aku harus segera turun
bersama penumpang lainnya. Aku melihat ia yang sudah turun dari bis duluan –
sementara aku masih harus mengantri untuk turun.
Akupun turun, namun ternyata ia tidak
melangkahkan kakinya untuk pergi jauh dariku – ia menungguku, rupanya. Ia
menatapku seolah-olah ada hal yang ingin ia bicarakan. Dan matanya, seolah
mengajakku untuk ikut berbicara bersamanya – walau tanpa berkata melalui
lisannya.
Entah mengapa kali ini detak jantungku
benar-benar tidak bisa aku kendalikan – sungguh. Dan aku bingung harus berbuat
apa sekarang. Aku juga tidak tahu apakah wajahku ini berubah seperti kepiting
rebus antara kepanasan dan malu yang berampur menjadi satu.
“ hai”
sapanya dengan hangat – sudah lama aku tidak mendengar suaranya. Dan rupanya
suaranya masih sama seperti dulu.
Aku hanya
menjawab dengan sebuah senyuman kecil tanpa kata – ingin menyapa kembali
setelah aku sudah tidak pernah bertemu dengannya –namun aku menahannya.
“ bagaimana
kabarmu?” tanyanya kembali ketika kami mulai melangkahkan kaki bersama. Aku
yakin ia ingn memecahkan keheningan karena aku tidak dapat berkata-kata.
“ baik”
jawabku lagi. Apakah jawabanku ini sebuah jawaban yang terlalu singkat?
“ kamu
enggak les kan kalau hari kamis?” tanyanya yang nampak ragu –mungkin ia takut
pertanyaannya akan dibalas singkat.
Aku
menggeleng pelan, “ tadinya aku mau konsul PR matematika hari ini, Cuma gajadi”
jawabku. Kali ini jawabanku lebih panjang dari sebelum-sebelumnya karena aku
merasa suasana diantara kami tidak sedingin dan sekaku ketika kami baru
bertatap muka tadi.
“ loh,
emang kenapa?” tanyanya kaget.
Aku segera
mematikan lagu yang sedang aku putar, kemudian melepas headset, “ aku enggak
ada temen. Temen-temenku pada enggak mau, katanya pada bilang capek” jawabku
apa adanya.
“ loh kok
baru gitu aja udah bilang capek sih? Gimana mau maju kalau ngeluh terus?”
komentarnya. Memang begitulah ia – jika ia bertanya tentang sekolah dan aku
menjawab seperti itu – ia akan bereaksi layaknya motivator. Namun tidak dapat
kupingkiri, ia memang selalu bersemangat belajar – prinsip itu selalu ia terapkan
dalam dirinya untuk selalu tidak mengeluh.
“
entahlah. Itukan ucapan dari teman-temanku. Aku juga berusaha enggak pernah
ngeluh walau aku sebenarnya capek sama sekolah” aku menghela nafas panjang. Senang
rasanya, bisa berbagi sedikit cerita dengannya.
Ia malah
tersenyum kecil, “ kamu besok belajar kan, Ay?” tanyanya yang seolah-olah sudah
melupakan persoalan yang tadi.
“ belajar
kok, memang kenapa?” tanyaku penasaran, “ kamu besok enggak belajar?”
“ enggak.
Aku ada acara di sekolah” jawabnya yang tanpa memberitahukanku acara apa itu.
“ oh gitu,
hehe” aku hanya tertawa kecil.
Keheningan pun kembali terjadi diantara
kami – dan percakapan kami pun terhenti. Aku tidak berani menatapnya, hanya
menunduk ke arah jalanan yang menuju ke arah rumahku. Disisi jalan kami saling terdiam dan termangu, tanpa ada yang memulai kembali. Aku hanya berharap, bahwa ialah yang akan kembali memulai percakapan.
“ Ay”
panggilnya lagi.
Aku segera
menoleh ke arahnya.
“ terima
kasih ya telah menemaniku pulang bersama hari ini. Aku sangat beruntung bisa
bertemu denganmu lagi , setelah satu tahun
lebih kita tidak bertemu” jelasnya diiringi senyum kecil, “ bahkan aku tidak
menyangka bahwa kita bisa satu bis” lanjutnya.
‘
menemanimu pulang bersama hari ini? Apa maksudnya? Bukankah aku dan dia tidak
ada rencana apa-apa untuk saling bertemu? Jangankan untuk berencana,
memikirkannya sama sekali saja tidak’ batinku heran.
Aku hanya mengembangkan senyumku tipis, berusaha berucap walau ada sesuatu hal yang ingin aku ucapkan.
Akhirnya akupun telah sampai di ambang
pintu rumahku – membuatku harus segera berpisah dengannya. Sebenarnya di dalam
batinku sendiri ada rasa penyesalan yang mendalam bahwa aku begitu cuek
terhadapnya yang menurutku ia begitu baik terhadapku. Namun disisi lain, aku terus
ingat kejadian malam hari pada awal ia kembali muncul – dimana aku sangat membenci
peristiwa itu.
