Cerita Pendek



Dia yang Pergi,
dan Dia yang Hadir Kembali

Senin, 4 agustus 2014 

            Ketika aku berusaha memasuki dalam fase baru – dalam kehidupan baru. Ketika aku berusaha ingin melupakan dan tidak ingin kembali dalam masa laluku. Menatap lurus ke depan, seakan aku tidak peduli dengan apa yang ada di belakangku. Ketika aku ingin mengubah segalanya di saat ini, dari mulai detik ini. Dan kembali berusaha memulainya dari nol.

          Pukul setengah sepuluh malam, pada waktu terakhir di hari pertamaku sekolah. Aku sedang merapikan bukuku ke dalam tas, dan mempersiapkan hari esok yang akan lebih menantang untuk aku lalui. Walau aku tahu, seiring berjalannya hari, maka akan semakin banyak tantangan yang harus aku lewati. 

          Tiba-tiba handphoneku bergetar sebanyak dua kali getaran dengan cukup kencang di atas meja belajarku, yang itu berarti menandakan adanya pesan singkat. Mungkin kufikir itu pesan dari sebuah operator telpon, yang ingin mempromosikan fitur-fitur bonus palsu mereka. Akupun membukanya, dan melihat sejenak – bukan dari operator, namun ternyata dari sebuah nomor yang tidak kukenali.

“0812...?” tanyaku kepada diri sendiri. Segeralah aku membukanya.

Sebuah nomor asing itu memanggil namaku. Sebenarnya itu hanya nama panggilanku, namun ada sedikit kesalahan dalam dua buah hurufnya. Kufikir dia typo, atau si pengirim ini tidak tahu namaku yang sebenarnya. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu sekarang. Yang membuatku bingung adalah, siapa yang memanggilku di hampir tengah malam yang seharusnya orang-orang telah beristirahat ini?

‘mungkin siska yang ingin bertanya mengenai pelajaran besok’ batinku. Tanpa ragu aku membalasnya, “ iya?”

 Tidak berapa lama si pengirim itu kembali menjawab, dan aku membukanya lagi, “ini, Aby. Masih inget aku, Ay?” 

          Seketika saja jawaban dari pesan singkatnya itu membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat, dan aku membaca pesan itu berulang kali. Aku berusaha menajamkan fokusku, ‘apakah aku tidak salah baca?’
“ Aby?” tanyaku lagi kepada diriku sendiri, “ mengapa ia...datang lagi?” gumamku heran.

          Ragu dan bimbang. Itulah yang kurasakan saat ini. Beberapa menit aku membiarkan pesan yang telah aku baca itu. Haruskah aku membalasnya? Namun, jika tidak membalas, aku akan kehilangan pertemanan dengannya. Dan...jika aku membalasnya, aku takut semuanya akan kembali seperti satu tahun kemarin.

“ masih inget kok, emang kenapa?” tanyaku berusaha cuek dan tidak peduli.

“ enggak apa-apa. Bagaimana kabarmu, Ay?” jawabnya lagi.

“ baik. Kamu baik juga kan?”

          Begitulah seterusnya. Bertanya tentang kabar kami masing-masing. Ia bertanya kepadaku bagaimana cerita di sekolah, dan masih banyak hal lain yang ia tanyakan. Aku hanya menjawab singkat, dan ia menyelingi dengan candaan. Dari dulu, sifat humoris itu tidak pernah hilang darinya – satu bagian pun. Sehingga akupun masih merasakan bahwa ternyata ia masih cukup seperti yang dulu.

          Dan pada pukul kurang lebih setengah sebelas malam, aku sengaja mengakhiri percakapan kami – dengan berpura-pura telah tertidur dan tidak menjawab pesannya yang mengandung humor. Ya, mungkin karena memang aku sudah mengantuk juga. Akupun mematikan handphoneku dan terlelap dalam malam.

          Esok hari pada pukul lima aku kembali memulai hariku. Hari keduaku di sekolah pada tahun ajaran baru kelas XII. Seperti biasa, aku selalu mencari handphoneku – entah sudah refleks atau apa. Dan rupanya handphoneku masih telelap di atas meja belajar semalam karena aku masih menidurkannya.

          Aku segera mengaktifkan handphoneku kembali, dan menunggu beberapa saat apakah ada pesan yang masuk atau tidak. Benar saja, handphone itu kembali bergetar dua kali, dengan terburu aku segera membukanya. Takut pesan itu merupakan pesan yang penting dari teman-temanku.

“ selamat pagi, Ay :D”

          What? Mengapa hal ini seperti kembali terulang ketika kami masih bersama waktu itu? Untuk apa dia melakukan hal ini lagi? Apa tidak cukup yang kemarin itu? Akupun hanya menghiraukan pesan pagi itu, dan lebih memilih mandi dan bersiap ke sekolah daripada harus membalasnya. Membalas pesan itu bisa jam tujuh nanti, batinku.

“ kamu udah sampai di sekolah, Ay?” tanyanya begitu aku tiba di sekolah, padahal aku belum membalas pesan itu.

“ udah, baru aja” jawabku singkat.

          Begitu dan begitu seterusnya berturut-turut. Dia yang kembali mengucapkan selamat pagi untukku, mengingatkanku untuk makan, untuk selalu berhati-hati, dan untuk selalu belajar yang giat. Sementara aku tidak pernah mengingatkannya apa-apa. tidak balik bertanya jika ia berhenti bertanya, menjawab selalu dengan singkat, dan menjawab dengan selalu lama. Minimal setengah jam-satu jam sekali.

          Sebenarnya apa tujuan ia kembali melakukan hal ini seperti dulu? ingin mengulang kembali? Tapi kenapa harus sekarang? Disaat aku sedang tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku bisa sendiri. Tanpa adanya ucapan selamat pagi itu, tanpa adanya perhatian-perhatian kecil itu, aku bisa saja tidak membutuhkannya. Namun, mengapa ia melakukannya lagi?

          Dan kini sudah hari keempat ia kembali melakukan hal-hal itu lewat pesan. Pada malam hari sekitar pukul sepuluh, disaat aku telah menyikat gigiku di kamar mandi, dan bersiap untuk tidur. Awalnya aku ingin mematikan handphoneku, namun ternyata ada sebuah lampu berkedip berwarna merah setelah getar yang menandakan adanya pesan.

“ Ay. Aku masih suka sama kamu, aku masih cinta sama kamu, dan aku sayang sama kamu. Apakah kau mau mengulang kebersamaan kita seperti dulu disaat kita masih bersama?”

Dan sekarang aku benar-benar bingung. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Firasatku benar ternyata – ketika awal ia memulai menyapaku singkat. Bahwa ternyata ia masih ingin bersamaku. Dan, aku benar-benar tidak bisa menjawabnya malam ini. Maaf, By. Aku masih meragukanmu.


Postingan Populer