Diary Kecil
Cinta Tanpa
Ikatan
10 februari 2014
Saat aku mengharapkannya kembali,
Sepertinya sudah tidak ada lagi
kesempatan untukku,
Cinta yang datang terlambat
menghampiri
Dulu, ketika cinta hampir saja
menghampiriku –aku bimbang. Bimbang untuk memilih apakah aku harus
melanjutkannya atau tidak. Saat itu koneksi memang sedang stabil, bahkan
semakin cepat dan terus berkembang. Diantara kami tidak ada duka yang mendalam.
Hanya haru biru yang tergambar.
kami bersama setiap malam. Saat fajar menjelang, hingga fajar kembali tenggelam. Menanti senja yang seolah sudah siap akan tugasnya. Aku dan dia. Tak ada halangan yang berarti. Kami habiskan tawa setiap waktu, seolah kami melupakan tugas sekolah.
Senyum diantara kami memang
begitu hangat. Karena cinta ternyata datang menghampirinya. Mungkin,dia sedang
jatuh cinta...kepadaku? fikirku. Iyakah? –aku tidak yakin. Seolah otakku selalu
saja mengolah setiap kalimat balasannya. Bahwa ia...ternyata berbeda dengan
laki-laki lain.
Aku baru tersadar, mungkin
iya, laki-laki itu sedang terbawa oleh cinta. Namun aku belum merasakannya
lebih dalam. Ia tak berucap, mulutku dan dia sama-sama bergumam. Kami tidak
emmbahas soal itu. Yang kami tahu, cinta yang sedang menghampiri kami. Dan kami
yang sedang tertawa tanpa beban.
Aku menikmati setiap waktu
yang ada bersamanya. Hingga akhirnya dewi cinta datang kepadaku. Dan aku merasa
bahwa, dia memang milikku. Walau aku tahu aku, aku tidak mungkin bilang
kepadanya bahwa aku merasakan hal yang serupa –seperti yang dia rasakan. Jadi aku
dan dia sama-sama memendam. Dan kami tidak ada yang memulai.
Cinta yang datang kepada
kami semakin lama semakin kuat. Namun kami tak terikat apa-apa.Aku dan dia,
tidak ada apa-apa. hanya ada sepucuk surat dari cinta yang datang kepada kami.
Kami selalu bersama, namun
dengan keadaan yang berbeda. Jika tadi hanya dia yang merasakan bagaimana cinta
itu mendekat kepadanya. Namun sekarang aku merasakan hal serupa.
Aku tahu, waktu dan bumi
akan terus berotasi. Tidak mungkin aku dan dia –maksudnya kami seperti ini
terus. Dan salah seorang diantara kami harus mengalah pada cinta. Namun aku
belum bernai untuk mengalah. Hingga pada akhirnya, dialah yang mengalah.
Kami tidak ada lagi. Kami tidak
seperti dulu lagi. Sepucuk surat dari cinta itu telah mengudara, dan terbang
kepada yang lain. Dia mengalah, dan aku masih tetap tidak ingin mengalah.
Mengapa cinta terlalu cepat
untuk datang dan pergi? Mengapa cinta tidak datang lebih lama? Bersama-sama
seperti ini selalu? Aku sudah benar-benar nyaman seperti ini. Cinta tanpa
ikatan. Namun sayang, dia yang mengalah.
Diapun pergi. Pergi. Namun bukan kepadaku lagi...
