Cerita Bersambung 5



If U Know What I Mean
Part 5

            Begitu aku sudah tahu keberadaannya sekarang, entah mengapa aku sudah cukup puas karena aku sudah bertemu dengannya. Disaat aku selalu menunggunya untuk bertemu dengannya kembali, aku memang ....Ya, aku memang menyia-nyiakan kesempatan ini.

     Mengapa hatiku menjadi tertegun untuk kembali menemuinya? Seharusnya aku bisa bercerita yang sesungguhnya bahwa aku adalah sahabat lamanya, aku adalah Ataya Kirana–sahabat perempuan pertamanya. Seharusnya aku bertanya kepadanya, ‘apakah kau masih ingat aku, Tama? Aku sahabatmu dulu. Aku yang suka bermain bersamamu, dan selalu menikmati matahari terbit di balkon rumah. Ini aku, Tama. Aku, Ataya’

     Namun mungin hal itu tidak akan terjadi. Aku tidak ingin berkata apapun kepadanya tentang masa lalu kita itu. Aku tidak ingin jika aku yang mengingatkannya. Aku hanya ingin, kau yang ingat itu tentang diriku. Aku ingin kau masih menyimpan secuil saja peristiwa masa lalu itu. Yang kuinginkan hanya itu. Dan yang kuharapkan hanya itu. Apakah kau masih ingat akan hal itu?

     Jika kau tidak ingat kepadaku, apakah kau ingat wajahku ketika kelas 1 SMA? Apakah aku ini perempuan yang telah berubah? Ataukah sifatku ini masih sama seperti dulu? Dan apakah wajahku ini berubah sehingga kau lupa kepadaku? Dan satu hal lagi, apakah kau terlalu banyak urusan sehingga diriku tidak ada di dalam memorimu?

     Di pagi hari, aku harus pergi ke kampus. Ya, memang itu rutinitasku sehari-hari–pergi ke kampus untuk menimba ilmu. Namun kali ini aku tidak sendiri, aku ditemani oleh Lysa. Kami berjalan bersama menuju kampus, bahkan hingga sampai ke kelas. 

“Ataya” panggil Lysa.

“what happen, Lysa?” tanyaku sembari tersenyum kepadanya.

“satnite I will invite you in my party. Can you come to the party? Pleasee...” mohon Lysa.

“but where?” tanyaku tidak yakin untuk datang ke pestanya. 

Jujur, aku memang tidak terlalu suka dengan acara ‘promnite’ atau pesta-pesta lainnya. Lebih baik aku beristrahat di rumah nenekku, minum coklat hangat, atau mengobrol banyak dengan nenekku.

“in my house, in the garden. Is it no problem, right?” tanyanya sekali lagi berusaha meyakinkanku, “ and the important thing that you must wear a short dress. But I will happier if you wear a red dress, okay?” pesannya kepadaku.

Namun, Lysa itu sahabatku. Aku tidak ingin mengecewakan hatinya. Bagaimana perasaan seorang sahabat kita bila seperti itu? akupun berfikir sejenak, dan pada akhirnya aku mengambil keputusanku dengan mengatakan kepadanya,
“okay, I will come in your party. But, why you ask me to wearing a short red dress?” tanyaku heran.

“because you more beauty to wear that” jawabnya sambil tersenyum kepadaku

“thank you so much. You more beauty too” aku kembali tersenyum kepadanya.

Kami pun saling tertawa satu sama lain.

Ya, terkadang candaan Lysa-lah yang membuatku ‘sedikit’ melupakan Tama. Ya, semoga saja aku tidak akan pernah lagi bertemu ‘Pria Matahari Terbit’ itu. Semoga saja.

Postingan Populer