Diary Kecil
23 Agustus 2013
Menunggumu di
Tanggal 22
Ketika waktu terus berlari, akupun berusaha
mengejarnya. Bahkan hingga kulelah sekalipun, akan kukejar waktu yang tidak
akan pernah berhenti berlari itu. Lelah yang mendera, aku hiraukan begitu saja.
Demi bertemumu, untuk waktu yang singkat. Di tanggal 22.
Aku telah bertemu di tanggal 22
berikutnya. Ya, 22 agustus itu akhirnya muncul juga. Waktu itu telah
menemukanku kembali pada tanggal 22. Pada bulan yang lalu, aku sangat berharap
dapat bertemu dengannya lagi – walau hanya bayangan.
Pulang sekolah yang kunanti dan
kutunggu. Tidak seperti biasanya aku menunggu bel pulang sekolah secepat ini.
Mungkin karena tanggl 22 ini. Akupun segera pulang, dan melangkahkan kakiku
menuju halte bis langgananku.
Pada awalnya, aku menunggu selama
beberapa menit. Waktu tetap berjalan begitu saja, seakan memaksakanku tetap
pulang ke rumah. Aku berusaha mengusik waktu itu, namun aku tidak dapat berlari
dari kenyataannya. Waktulah yang membuatku menjadi seperti ini.
Entah mengapa firasatku mengatakan bahwa tidak ada dia disana. Namun keyakinkanku kembali
mematahkan itu semua, bahwa nanti aku akan bertemu dengannya. Namun ternyata, bayang-bayang keyakinan itu
sekejap menghilang–bahkan bayangannya yang berada tepat difikiranku.
Aku enggan beranjak dari halte bis itu. Masih menunggu dan terus
menunggu. Walau sebenarnya itu hanya mmbuatku semakin ‘sakit’ saja. Hilir mudik
orang-orang pun aku hiraukan juga. Aku bahkan tidak memperdulikan bis
langgananku yang telah lewat.
Jujur, ternyata itu bukan hanya sekedar firasat, melainkan kenyataan.
Kenyataan yang hilang dari genggaman. Akupun tersadar pada akhirnya, bahwa ia
memang tidak ada. Mungkin ia sudah pulang, dan tidak pernah berharap secuil pun
untuk menemuiku, menungguku, bahkan bertemu denganku. Ya, inilah kenyataan yang
pahit.
Kecewa, memang. Dan itu sangat. Rasanya penantianku ini sia-sia.
Senyuman yang ingin kutorehkan pun tidak jadi aku keluarkan. Sehingga
senyumanku itu kembali bersembunyi dalam
balutan kenangan. Apakah memang aku yang bodoh karena ‘menunggu seseorang yang
tidak akan pernah menunggu untukku?’ ya, bisa jadi.
Hati yang kecewa, terpaksa menemani perjalananku di dalam bis. Akupun
meninggalkan halte itu dengan sia-sia. Dalam hati aku berusaha tersenyum, walau
kecewa tetap terpendam. ‘tak apa. masih ada 22 berikutnya, bahkan hari-hari
lain yang bahkan tak kuduga’
Penantianku selama ini
hanya untukmu, di tanggal 22...
