Diary Kecil
31 Juli 2013
Memeluknya
di Dalam Mimpi
Aku tidak
sadar apa yang aku sedang lakukan kala itu. Entah mengapa aku bisa tidak tahu
apa yang aku lakukan. Namun yang sangat pasti, dia datang lagi. Dia kembali
muncul dan mengingatkanku sekali lagi di dalam fikiranku. Tak tahu menahu juga
mengapa ia kembali muncul tiba-tiba. Mungkin, aku sedang merindukannya kini.
Aku sedang pergi ke sebuah taman
cantik–entah dimana, dan kapan. Akupun duduk di kursi kayu taman itu, berteman
dengan sebuah lampu malam yang belum waktuny untuk dinyalakan. Dan yang
kuingat, aku pergi ke taman pada sore hari. Sesekali aku memandang sekeliling,
menatap bunga warna-warni, dan menghirup udara yang alami disana.
Aku sangat beruntung bisa berada di
taman yang sejuk ini. Rumput hijau yang menari bersama angin, bunga-bunga yang
sedang berdendang untukku, hingga serangga-serangga kecil yang juga ikut menari
di dalamnya. Semua terbawa oleh suka. Begitupun aku. Akupun tersenyum lebar
bersama mereka.
Namun satu yang aku herankan dengan keberadaanku
saat ini, mengapa di taman ini hanya aku sendiri diantara manusia yang lain?
Tidak ada orang di taman ini. Sungguh, ini sangat mebuatku heran. Mengapa
orang-oang tidak ingin menikmati sre mereka di taman yang scantik ini? Dikala
cuacapun turut mendukung keberadaan taman cantik ini.
Aku juga tidak tahu pasti. Namun, aku
hanya menikmati keindahan taman ini sendiri saja, berusaha tidak memikirkan hal
tersebut. Ketika otakku sudah tidak memikirkan orang-orang itu lagi, maka aku
kembali bersuka ria bersama bunga-bunga yang cantik itu.
Mungkin aku terlalu menikmati persaanku
kini. Mungkin aku telah terbawa dalam sukaku–sehingga aku tidak sadar apa yang
sedang terjadi. Entah mengapa bunga-bunga yang seharusnya berdendang
untukku–kini mengumpat malu-malu, rumput-rumput itu–menjadi terbujur kaku,
angin itu–sudah pergi entah kemana, dan serangga-serangga kecil itu–terbang dan
pergi meninggalkanku.
Aku tidak tahu mengapa mereka bisa
pergi meninggalkanku begitu saja–ketika aku sedang larut dalam suka. Ketika
kutanya mereka, tak ada yang ingin menjawab. Aku masih heran dengan apa yang
kini sedang terjadi. Mungkinkah ini salahku?
Akupun segera kembali duduk di kursi
taman itu, berusaha mengolah peristiwa yang telah terjadi dalam otakku. Aku
tertegun, diam dan masih memikirkan hal itu. Aku hanya menunduk kebawah. Dan
idak menyadari peristiwa yang ada didepanku saat ini.
Ketika ku menoleh ke depan–tepat
didepanku saat ini, sosok Robby tampak nyata dihadapanku. Mataku membelalak
lebar, dan aku segera mengucek kedua mataku–berusaha meyakinkn bahwa itu
bukanlah bayangannya.
Kupandang wajahnya, namun ternyata yang
kulihat hanyalah sebuah kesedihan di raut wajahnya. Hidungnya memerah,
begitupun matanya yang sedang mengeluarkan airmata. Aku heran, mengapa ia
menangis hingga semua wajahnya memerah? Jarang sekali aku melihat laki-laki
menangis di depan perempuan.
Aku tetap memandangnya sembari aku
berdiri–begitupun dia juga tengah memandangku. Entah mengapa, akupun ikut larut
dalam kesedihannya. Aku pun menangis, entah penyebab apa yang membuatku
menangis.
Dia berjalan pelan kepadaku, kemudian ia
memelukku dengan erat. Aku masih berdiri tegap, dan enggan memeluknya. Aku
masih kebingungan dengan apa yang sedang kami lakukan. Namun pada akhirnya aku
tahu–akupun juga merindukannya. Tanpa tersadar kedua tanganku ikut memeluknya
erat.
“Ayana” panggilnya kepadaku.
“aku rindu sekali denganmu” bisiknya pelan kepadaku, airmatanya tak
henti-hentinya mengurai kesedihan.
Aku
tidak dapat menjawab apa-apa, dan sekarang aku yang lebih cengeng dari padanya.
“aku...juga rindu
denganmu...Robby..hiks” kataku
pelan–aku tidak dapat menahan kesedihanku saat ini.
“mengapa kau berusaha menjauh
dariku, Ay?” tanyanya yang masih
memelukku.
“tapi kukira, kau juga telah
melupankanku, By. Dan aku juga tidak ingin menganggu kehidupanmu lagi” akupun membuka perasaanku yang
sejujurnya kepadanya
“aku tidak akan pernah
melupakanmu. Sekalipun kita sudah tidak lagi bersama, namun aku akan selalu ada
untukmu. Sekalipun kau sudah mepunyai penggantiku, aku akan selalu setia berada
disampingmu, Ay” jelasnya
kepadaku. Entah sudah berapa lama kami saling berpelukan.
Aku hanya bisa menangis, aku ini
perempuan yang cengeng, perempuan yang sok kuat, yang pada akhirnya hatiku akan
kembali melebur di dalam kesedihanku. Jujur, By, aku belum bisa menggantikanmu
oleh orang lain dihatiku. Aku MASIH menunggumu, By. Masih ingin menghabiskan
waktu bersamamu seperti kala itu. namun aku memang tidak tahu diri bahwa kami
memang sudah tidak bersama.
“dan kau juga tidak pernah menggangguku,
Ay. Kau jangan pergi dariku lagi, Ay. Kumohon”
mohonnya kepadaku.
Aku
terdiam sejenak, “entahlah, By. Aku tidak bisa janji
dengan hal itu. maafkan aku” akupun
melepas pelukannya hangatnya–walau sebenarnya aku masih ingin lama bersamanya.
“mengapa kau seperti itu
denganku, Ay?”
Kulihat
sorot matanya yang sebenarnya masih menahan kesedihannya, namun ia tidak ingin
memperlihatkannya kepadaku.
“aku memang tidak bisa melakukan
itu, By. Maafkan aku” akupun
mengusap pipiku yang sudah terlanjur basah, beruaha mengurai senyum untuknya.
“baiklah kalau begitu. Aku tidak
akan memaksamu. Namun yang pasti, aku akan tetap ada disampingmu, Ay” pesannya. “dan sekarang
aku harus pergi, Ay. Dan kini rasa rinduku telah terbalas oleh pelukanmu.
Mungkin suatu saat kita bertemu lagi”
iapun memberikan sebuah senyuman kecilnya untukku.
‘By, kau ingin pergi kemana? Jujur, aku tidak ingin kehilanganmu,
By. Aku ingin kau tetap disini bersamaku. Maafkan aku karena aku telah
berbohong terhadap perasaanku sendiri kepadamu. Namun aku harus bisa menahan
itu semua, dan tidak menyampaikannya dengan kata-kata. Dan aku hanya bisa
menahannya di dalam hatiku sendiri'
“Robby, kau ingin pergi kemana?” tanyaku berusha menggapai tangannya.
Namun semakin lama ia pergi menjauh dariku, “maafkan aku, By. Maafkan aku” pipikupun kembali basah karena terurai
airmata.
“aku ingin pergi dari sini.
Entahlah kemana. Selamat tinggal, Ay” itulah
kata terakhir yang ia ucapkan untukku.
Akupun membuka mataku. Kulihat
sekeliling, ternyata di kamarku. Rupanya aku masih berbaring di tempat tidurku.
Aku baru tersadar, ‘itu hanya mimpi?’ mengapa kau datang kepadaku lewat bunga
tidurku, By? Apakah aku sedang memikirkanmu sehingga kau muncul lewat mimpiku?
Namun mengapa kau yang berkata duluan bahwa kau yang merindukanku?
