Cerita Bersambung 2



If U Know What I Mean
Part2

            Apa artinya matahari terbit apabila ia tidak memancarkan sinarnya? Memancarkan kebahagian untuk semua orang termasuk diriku? Percuma terang, apabila tertutup kegelapan. Tertutup kesedihan dan hanya menimbulkan kedukaan. Apakah seperti itu manfaat matahari? Tidak, itu bukan manfaat matahari yang sesungguhnya.


     Ketika ku ingin menyerah akan ‘kehadirannya’ kembali, hatiku melemah. Namun, aku tidak menyadari bahwa ternyata dia ‘dekat’ denganku. Walau tak nampak, walau tak nyata, dan walau tak pernah kusadari sebelumnya. Mengapa aku sangat terlambat berfikir?


     Dan kini akupun melanjutkan pendidikanku ketingkat yang lebih tinggi. Ya, kuliah. Kuputuskan untuk kuliah ke Australia untuk mendapatkan ilmu ‘lebih’. Akupun mengambil jurusan sastra Inggris. Dan aku berharap, aku akan berhenti ‘menunggu kehadirannya lagi’. Mungkin dia memang bukan untukku, bukan untuk sahabat. Semoga saja ini jalan yang terbaik untukku dan untuknya.


     Ketika waktu kuliahku telah usai, dan semua tugas kuliahku telah kukerjakan dengan baik, akupun ingin beristirahat dari kejenuhanku sebagai seorang mahasiswi. Kuputuskan untuk pergi ke sebuah taman kecil di dekat kampus, berharap pikiran dan tenagaku lebih rileks.


     Aku pergi sendiri, karena aku memang ingin menyendiri. Dan aku adalah seorang yang selalu penyendiri-walau aku mempunyai seorang sahabat.Akupun duduk dikursi taman pada sore hari, dengan memandang sekeliling taman yang indah menawan. Ya, dengan mengagumi ciptaan-Nya yang sungguh indah.


     ‘coba dari dulu aku pindah ke Perth. Mungkin aku tidak akan pernah mengenalnya kali ya. Mungkin matahari terbit itu tidak akan pernah mengingatkanku akan senyum masa kecilnya kali ya?’ tanyaku dalam hati, sambil mengehela nafasku panjang. Namun, itu semua takdir yang tidak akan pernah diduga manusia sama sekali.


     Tiba-tiba, ketika ku sedang melamun, ada seseorang laki-laki yang memintaku untuk memfoto diriku. Apa istimewanya diriku? Namun mungkin, dia adalah seorang photografer. Atau mungkin dia hanya hobby dan iseng saja? Mungkin.


“me? Of course” jawabku akhirnya kepadanya. setelah sebelumnya aku masih bingung dengan pilihanku. Yang kutakuti adalah dia ingin mempalsukan identitas diriku.


“thank you” jawab cowok itu sambil tersenyum. Tanpa basa-basi iapun segera memotret diriku beberapa kali. Awalnya aku gugup dan malu–sebab belum pernah aku difoto oleh orang yang belum kukenal. Namun aku hanya menikmatinya saja.Dan akhirnya ia sudah puas dengan hasil jepretannya. Tidak butuh waktu yang lama untuk menghasilkan beberapa jepretan.


“may I see the results?” tanyaku penasaran. Ia segera memberikan SLRnya itu kepadaku.


“ohh, my face..” keluhku. Ucapanku pun segera terpotong olehnya.


“ you’re beautiful girl” iapun memotong kata-kataku. Aku hanya bisa tersenyum, dan mungkin ia sedang menghiburku.


“really? I don’t think so. But thank you very much” dan aku hanya bisa tersipu malu ketika dipuji olehnya. Berharap dia tidak akan memujiku untuk kedua kalinya.


“no problem. Hey, where do you come from?” tanyanya kepadaku sembari menyimpan SLR itu kedalam tasnya.


“me? I’m from Indonesia” jawabku singkat, “ and you?” tanyaku lagi. Kalau bisa kutebak, mungkin dia dari Malaysia atau mungkin juga Singapure.


“I’m from Indonesia too. Senang bisa menemukan orang sebaik dirimu” jawabnya.


Aku pun sangat senang, sebab aku bisa menemukan teman dari Indonesia juga.


“me too. Oh iya, untuk apa kau memotret diriku?” tanyaku.

Dia tersenyum lagi,“bukan untuk apa-apa. Aku hanya iseng saja, sebab aku sangat menyukai dunia fotografi” jawabnya, “dan aku sedang belajar fotografi disini” lanjutnya.


“ohh ya? Waah, pantas saja daritadi kau sangat semangat untuk memotret beberapa objek lain” 


“iya, begitulah diriku” katanya . Kemudian iapun menatapku“entah mengapa aku seperti pernah bertemu dengan dirimu. Namun entah dimana” tanya laki-laki itu menatapku heran-dan ia mengalihkan pembicaraan.


“are you sure? Dimana?” tanyaku meyakinkannya. Sebab, aku memang baru pertama kali berkenalan dengan laki-laki ini.


“of course, tapi aku tidak tahu dimana. Okay, forget it” entah mengapa aku harus segera melupakan kalimatnya itu. Padahal, aku adalah orang yang sangat penasaran. Namun baiklah, ia memintaku untuk melupakan kalimatnya tadi.


Aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum.


Akupun segera melirik arloji merah mudaku. Sudah pukul 5 sore. Saatnya aku harus pulang ke rumah nenekku. Ya, semenjak aku kuliah aku memang tinggal di rumah hangat nenekku. Rumah dan suasana yang paling kucintai seumur hidupku.


“maaf, ini sudah pukul 5. Aku harus segera pulang. Terima kasih ya untuk sore ini” pamitku terburu-buru. Sebab aku memang sudah janji dengan nenekku akan pulang ke rumah pukul 5. Dan aku tidak ingin melanggar janji yang sudah kuucapkan.


“hei tunggu. Siapa namamu?” tanyanya mengentikan langkahku.

Aku menoleh kearahnya, “ngg... Mentari” ucapku asal menyebut nama. Akupun segera pergi meninggalkannya.


     Kuuntai kata demi kata dalam diary kecilku ditengah-tengah kesibukanku. Menorehkan sedikit ceritaku pada kala sore kemarin. Aku baru sempat menuliskan kisah kecilku hari ini, di salah satu tempat kesayanganku, meja belajar dan cahaya lampu kecil.


Ya, seperti itulah pertemuan singkatku dengan anak laki-laki itu. Walau aku tidak tahu namanya dan aku baru mengenalnya, kuharap aku dapat bertemu dengan laki-laki itu. Laki-laki yang ramah nan baik. Aku tahu, aku memang belum mengetahui selukbeluk kehidupannya-apakah ia anak yang baik atau bukan, apakah ia anak yang sombong atau bukan, aku memang belum tahu. 


Namun, apa yang aku lakukan apabila aku bertemunya lagi? Mengatakannya kepadanya bahwa apakah ia ingin menjadi sahabatku? Itu tidak akan mungkin. Memangnya, ada seorang laki-laki yang ingin menjadi sahabatku? Aku hanya menggelengkan kepala, dengan sikap pesimis tidak yakin. Atau apakah aku hanya bersendagurau kepadanya seperti waktu itu? 


Okay, lupakan. Ya, sebaiknya aku memang harus melupakan anak laki-laki itu. percuma aku terus memikirkannya, toh apakah aku akan bertemu dia lagi? Yang kutahu darinya adalah mengenal wajahnya dan SLRnya, bukan nama atau tempat tinggalnya.  Aku memang terlalu pede sepertinya. ya, begitulah diriku jika sudah mendapat teman baru.








Postingan Populer