Cerita Bersambung
26 Juli 2013
If U
Know What I Mean
Kini
aku hanya berteman dalam keabadian, dengan sepotong cerita yang ingin kuuraikan
kepada kalian. Berharap kalian tidak mengalami cerita cinta sepertiku. Menunggu
dan pada akhirnya itu akan sia-sia. Cintaku menghilang ketika ku berada didalam
keabadian.
Di
pagi buta aku terbangun. Ya, aku memang sengaja ingin melihat bagaimana
terjadinya cahaya dari ufuk timur itu terbit. Aku segera pergi ke balkonku, dengan
harapan aku tidak telat bangun. Dan beruntung, cahaya itu memancarkan sinarnya
untukku. Dan aku sangat senang akan hal itu, aku sangat berterima kasih kepada
Tuhan karena hari ini aku masih bisa melihat keagungan-Mu.
Tanpa
berkedip sedikitpun, aku masih memandang matahari itu. Namun aku segera
tersadar, bahwa tidak hanya aku yang memandang keindahan itu, namun juga ada
orang lain yang tiada lain adalah teman baruku.
Pandanganku
segera beralih kepadanya. Aku menatap sosoknya lekat, namun ia tetap fokus
terhadap pemandangan matahari terbit. Aku melihatnya sedang tersenyum ke arah
matahari itu. Mungkin ia juga sedang menikmati pemandangan indah itu.
Tanpa
tersadar bibirku semakin mengembang ketika melihatnya. Aku memang baru beberapa
bulan tinggal dtempat ini. Dan aku belum bersosialisasi dengan orang-orang
disekitar rumahku.
Aku
tetap terus menatapnya, namun dengan pikiran kosong. Rupanya, anak cowok itu
sudah tersadar jika aku melihatnya. Akupun akhirnya tersadar. Aku tergugup dan
malu. Apa kata dia apabila aku menatapnya sambil tersenyum kepadanya? Namun,
dia tidak menolak senyum kepadaku. Justru ia kembali terenyum kepadaku.
Ya,
cerita itu. peristiwa yang mengingatkanku ketika aku kelas 6 SD. Sudah lama
memang, namun masih dikenang juga. Semoga anak laki-laki itu tidak lupa akan
peristiwa itu. ketika aku memandang dua matahari sekaligus.
Namun
sayang, bayang-bayang senyumnya itu sudah menghilang. Senyuman itu hanya akan
menjadi kenangan dalam otakku. Aku dan dia memang pernah menjadi sahabat selama
4 tahun, hingga kelas 1 SMA. Namun kini, dia menghilang. Mengapa anak laki-laki
itu membawa suka dukanya kepadaku hanya selama 4 tahun?
Jika
aku mengingat tentang dia, tanpa terasa aimata itu menetes satu persatu seperti
bulir hujan. ‘aku yakin dia masih ada. Walau entah dimana. Walau entah aku bisa
bertemu dengannya lagi atau tidak. Aku hanya bisa terucap dengan doa, apabila
setiap kali aku merindukanmu, merindukan senyummu’
Aku
masih menunggu kehadirannya, dan menunggu ‘senyumnya’. Namun sepertinya penantianku
sia-sia. Walau seribu kali kata hatiku berbicara “ia pasti kembali. Ia pasti
datang menemuimu, walau bukan sekarang waktunya. Percayalah” aku bahkan masih
ragu dengan kata hatiku sendiri, namun aku tidak yakin akan bisa bertahan.
Untuk menunggunya.
Sekarang
kita sudah remaja, sudah 19 tahun. Dan aku masih menunggumu. Sesabarkah itu aku
menunggumu? Ya, aku kan sahabatmu. Dan aku masih akan tetap bersabar menanti
penantianmu, Tama.
Namun
satu hal yang aku tidak suka darimu. Kau itu seperti hantu, menghilang tanpa
sebab, mengilang tanpa jejak. Ya, itulah dirmu yang belum bisa kutebak
keberadaanmu hingga sekarang. Dan semoga kita akan bertemu–kelak. Walau entah
kapan. Walau entah dimana.
