Cerita Bersambung 3
If U
Know What I Mean
Part 3
Part 3
Akhirnya jam
kuliahku telah usai. Inilah yang kutunggu. Namun, bukan itu tujuanku untuk
pergi ke kampus–hanya sekedar nongkrong, menunggu jam kuliah usai, pamer
notebook, dan hangout bareng teman-teman. Tidak, aku tidak ingin seperti itu.
tekadku memang sudah bulat untuk tetap fokus kepada cita-citaku.
Lagi dan lagi, aku pulang sendiri.
Biasanya, aku pulang dengan seorang sahabatku, Lysa. Namun, ia sudah lebih
dahulu pulang karena ada urusan keluarganya. Dan sekarang, aku harus pasrah dengan
kenyataan yang ada. Pulang dengan bayanagan, dan berjalan sendirian. Namun tak
apa, aku sangat memakluminya. Walau pertama kali Lysa memberitahuku bahwa ia
tidak bisa pulang bersama, aku kecewa.
Mendengar musik, dan menikmati pemandangan indah
di Perth–menjadi hal yang menemaniku sepanjang perjalananku menuju halte bis.
Namun ketika aku sedang berjalan di trotoar, sebuah mobil berhenti disampingku.
Pada awalnya aku tidak menyadari, namun sedan hitam itu berjalan pelan seiring
aku berjalan.
Aku langsung melepas headsetku, dan
bertanya di dalam hati, ‘siapa yang memberhentikan mobilnya? Apakah orang itu
memberhentikan mobilnya untukku? Atau hanya sekedar parkir?’tak beapa lama orang
itu membuka kaca mobilnya yang sangat gelap. Lalu aku segera tersontak.
Laki-laki itu?
“Mentari,
kau ingin pergi kemana?” tanyanya–masih di dalam mobil.
“aku?”
tanyaku kebingungan, sembari menoleh ke kanan dan kiriku.
“iya
siapa lagi. Memang aku bertanya kepada angin?” tanyanya balik.
Aku
haya bisa tertawa kecil, “aku ingin menuju halte bis dan pulang. Dan kamu?
Mengapa kita bisa bertemu lagi?”
Iapun
segera turun dari mobilnya, “aku juga baru pulang dari kampus. Kita bisa saja
bertemu lagi apabila takdir yang menentukan kita harus bertemu”
Aku
hanya terdiam, memandang ke lain arah.
“apakah
kau ingin pulang bersamaku, Mentari?” tanyanya.
“tidak,
terima kasih. Aku bisa pulang sendiri menggunakkan bis” jawabku sembari menolak
permintaannya secara halus.
Kulihat
raut wajahnya, entah mengapa mukanya mengisyaratkan kepadaku bahwa ia menjadi
bete.
“tidak
apa-apa kan?” tanyaku pelan. Entah mengapa aku takut ia marah kepadaku.
“kau
pulang bersamaku saja, Tari. Aku sangat bosan jika aku menyetir sendiri”
bujuknya, “tenang saja, kau pasti safety kok bersamaku. Kau tidak akan kuculik”
lanjutnya sembari tersenyum. Membuatku yakin bahwa ia anak yang baik.
Aku
berfikir sejenak, namun pada akhirnya aku menjawab, “okay,baiklah”
Gurat
di wajahnya sudah berubah menjadi senyuman. Dan akupun juga senang apabila
melihat oranglain tersenyum. Kepada siapapun itu.
Akupun
segera menaiki mobilnya, lalu mobil pun segera berjalan dengan cukup kencang.
Aku banyak bercerita kepadanya, begitupun
sebaliknya. Kami saling bertukar cerita satu sama lain. Mengenai pelajaran semasa
sekolah, bahkan hobby satu sama lain. Aku sangat senang karena bisa mengobrol
banyak bersmanya. Santai dan nyambung. Seakan kami sudah mengenal lama.
Bahkan sebelum pulang, aku dan anak
laki-laki itu memutuskan untuk memenuhi isi perut kami terlebih dahulu di
sebuah restoran. Dan aku barutahu, bahwa ia alergi seafood. Entah mengapa aku
menganggapnya sebagai hal yang tabu. Lucu, karena ternyata laki-laki bisa
alergi seafood juga :)
Dan usai kami ingin pulang–masih di dalam
mobilnya, aku bertanya kepadanya mengenai satu hal, “aku sudah kenal kamu,
namun aku belum mengenal namamu. Boleh aku tahu siapa namamu?”
Dan
dia menjawab dengan yakin sambil diiringi senyum, “namaku? Namaku adalah Tama”
