Cerita Bersambung 4



If U Know What I Mean

Part 4
TAMA??? Tanyaku sekali lagi dalam hati. Begitu aku mendengar namanya, aku tersontak kaget, fikiranku tiba-tiba menyorot menuju masa lalu–seperti sebuah film yang mundur kebelakang, dan perasaan bimbang–percaya dan tidak percaya bahwa itu benar adanya. Entah hal apa yang yang membuatku sangat tersontak dan kaget. Untung saja bukan aku yang menyetir. Sebab apabila aku yang menyetir dengan perasaan kaget mungkin saja kami akan tergelincir aspal.

“kau, Tama?” tanyaku kepadanya, belum bisa menerima kenyataan yang ada.

“iya aku Tama. Gilang Pratama. Memang kenapa? Kau pernah bertemu denganku?” tanyanya heran–dengan alis kirnya yang ia naikkan keatas. Membuatku semakin yakin bahwa itu adalah dia.

“tidak apa-apa” jawabku sambil tersenyum.

     Iya, dia adalah Tama. Orang yang sedang buronan di dalam otakku. Orang yang selama ini membuatku cemas bahwa aku tidak akan pernah lagi melihat sosoknya. Orang yang selama ini menghilang tiba-tiba dariku. Dialah oang yang membuatku meneteskan armata karena merindukannya. Ya, dialah orangnya yang kutunggu selama 4 tahun.

     Ya, Tama. Gara-gara kau fikiranku hancur seperti ini. Gara-gara kau aku masih terus memikirkanmu hingga detik ini. Gara-gara kau, aku tidak ingin pernah melepaskanmu dari fikiranku. Ya, itu semua karenamu, Tama!

     Apakah kalian tahu persaanku bagaimana? Campur baur menjadi satu. Menangis, iya. Namun disisi lain aku sangat bahagia karena aku bisa bertemu dengannya. Dekat, dengan tanpa kusadari sebelumnya. Rupanya, Tuhan memang masih mendengar seuntai doa dariku.

     Jujur, Tama. Aku sangat ingin memelukmu. Apakah kau tahu aku sangat bahagia karena sudah bertemu dengan dirimu? Sahabat lamaku? Apakah kau tidak tahu seberapa besar perasaan rinduku selama ini kepadamu? Apakah kau tidak tahu bahwa airmataku ini bahkan bersembunyi di dalam kantong mataku? Agar kau tidak tahu bahwaku sedang bahagia? Ya, bahagia didalam hati.

     Tanpa terasa perjalanan kami telah usai. Dan aku benar-benar diantarkan pulang olehnya–namun tidak sampai di depan rumah nenekku. Aku ingin segera cepat-cepat ke kamarku. Mengurai airmata kebahagiaan untuknya.

“Tama” panggilku dengan nada rendah–sambil menatap sorotan matanya

“iya?” tanya Tama, “ada apa?”

Aku terdiam sejenak, menghela nafasku panjang, “terima kasih telah menemaniku siang ini. Kau memang orang yang baik” jawabku sambil tersenyum kepadanya. membuatku semakin tak tahan dengan airmataku yang sebentar lagi akan keluar.

Tama hanya tertawa kecil “tidak perlu khawatir. Aku kan telah berhutang budi kepadamu ketika itu”

“ tidak perlu membahas soal itu lagi, Ma. Aku juga menganggapnya santai saja “ ujarku sambil tertawa kecil. Iapun begitu, “aku harus pulang. Sampai bertemu lainkali” akupun keluar dari mobilnya. 

Dan iapun berjalan pelan meninggalkanku, seakan aku tidak ingin ia pergi jauh dariku. Aku ingin dia kembali untukku.

     Akupun kembali berjalan. Jaraknya memang sudah dekat dari rumah nenekku. Namun masih terasa jauh bagiku. Dan airmataku pun telah lelah untuk bersembunyi di balik kantung mataku. Yang pada akhirnya, air bening itu jatuh perlahan, namun semakin lama deras dan banyak. Hingga aku tidak bisa menghitung mereka satu-satu.

     Padahal rencana awal aku ingin menangis di dalam kamarku. Namun nyatanya tidak. Aku berjalan di trotoar komplek sendirian, begitupun hingga aku masuk ke dalam rumah nenekku. Aku berusaha mengumpat agar aku tidak ketahuan oleh nenek dan kakekku yang berada di dalam rumah.

     Aku segera membanting tubuhku ke atas tempat tidur begitu aku tiba di dalam kamarku. Aku menangis tak karuan, berusaha menahan amarah namun nyatanya aku tidak bisa menahannya. Aku tidak dapat bertanya banyak tentangnya.

apakah kau tahu Tama? Aku sudah menunggumu lebih dari 4 tahun. Aku juga bingung bagaimana perasaanku denganmu. Sebenarnya perasaan apa yang benar-benar ada di dalam hatiku untukmu? Perasaan sebagai seorang sahabatkah atau ada secuil perasaan ‘lainkah’ yang membuatku seperti ini terhadapmu? Dan kini, kau hadir kembali.

Postingan Populer