Diary Kecil



22 Juli 2013
Tanggal 22 dan Hari Ketika Kita Bertemu

Tepat dipagi hari, kala itu adalah hari pertama aku bersekolah di kelas XI. Ya, kini aku sidah memasuki fase berikutnya sebagai seorang pelajar. Memang suatu kebahagiaan karena dua tahun lagi aku akan menyelesaikan pendidikanku di bangku sekolah selama 12 tahun. Dan aku mensyukuri akan hal itu.

Entah mengapa aku bingung kepada dirikus sendiri. Mengapa dengan spontan aku langsung bertanya kepada salah seorang temanku, Hany?

“sekarang tanggal berapa ya?” tanyaku.

Hany menjawab, “sekarang tanggal 22 Juli”

Pikiranku langsung membuyar, sehingga aku tidak tahu lagi ingin menulis tanggal tersebut. Ya, tanggal 22..!! seketika aku terdiam, dengan tatapan mata yang kosong aku sembari berfikir, 

“22?” tanyaku lagi denagn segenap ragu–masih dengan tatapan kosongku

“iya, memang kenapa?” tanya Hany.

Aku kembali terdiam, dan aku tidak mementingkan apa yang Hany tanya kepadaku, aku sangat tidak peduli. Ya, menurut kalian tanggal 22 mungkin bukan merupakan tanggal istimewa. Namun menurutku, kejadian di tanggal 22 itu tidak akan pernah aku lupakan, walau ku tahu–semua itu hanya berlalu. Dan hanya terjadi dengan sekejap mata. Dan tanpa seorang pun tahu akan keberadaan tanggal 22.

22 juni? Fikirku dalam hati. Namun logikaku menjawab, “Benar, 22 juni. Sebulan yang lalu”. Mengapa waktu itu berlalu dengan cepat? Sehingga aku tidak menyadari akan adanya tanggal ‘22’ selanjutnya?

Aku masih ingat. Ketika ada seorang temanku yang menyatakan cintanya untukku. Kufikir itu adalah lelucon. Namun ternyata dia berkata jujur kepadaku. Rupanya dia menaruh hatinya kepadaku. Begitupun aku kepadanya. Wanita mana yang tidak bahagia apabila laki-laki yang ia sukai mempunyai perasaan yang sama kepadanya? dan pada akhirnya, akupun menjatuhkan pilihan kepadanya untuk selalu yakin bersama–yang semoga saja dia merupakan pilihan yang tepat untukku. Namun nyatanya?

Angin lalu hanyalah angin berhembus yang lewat dengan sekejap mata. Ketika aku hendak membuka mataku perlahan, dia menghilang. Aku, kini sudah tidak memikirkan ia lagi, memikirkan kehidupannya, cinta selanjutnya, atau hal lainnya yang akan membuatku jatuh(lagi). 

Tepat di tanggal 22 juli ini–usai kami pulang sekolah. Aku BERTEMU dia lagi. Setelah satu bulan yang lalu kami saling tidak bertatap mata, hingga aku bemutuskan hubungan dengannya–akhirnya aku bisa menatapnya dia lagi. Namun satu hal yang kuheran. Mengapa harus bertemu tepat ditanggal 22? Mengapa tidak ditanggal lain?

Aku berusaha menghindar darinya, membuang mukaku hingga tak nampak olehnya, dan menggunakan kesempatan dikeramaian orang-orang yang berlalulalang di halte. Tapi, yang kulakukan sepertinya percuma.

Dia menatapku, seakan ia baru mengenalku. Seakan kami tak pernah bertemu selama seribu tahun. Namun, aku sudah terlanjur berhenti mencintainya. Ahari ini aku memang pulang sendiri, tanpa ditemani seorang temanku. Bahkan sahabat perempuanku sendiri. Ya, karena kami sudah mempunyai kesibukan masing-masing.

Ya, tepat di halte kami bertemu. aku yakin, ia yang menatapku duluan. Namun aku belum tersadar oleh kehadirannya di halte itu. Sebab, begitu aku menoleh ke kanan, aku melihat dia yang sedang menatapku.

Dia masih berpakaian seragam sekolah lengkap. Dengan jaket biru tua khas sekolahnya yang ia pegang erat di lengan kanannya, dasi yang sudah berantakan, dan tas ransel yang hanya berisikan batu besar. Aku yakin ia baru pulang sekolah, sama sepertiku. Aku tersontak, mataku melebar. Aku baru tersadar, bahwa ternyata dia adalah “sosok yang selama ini sangat kurindukan” namun kuyakin, dia tidak merindukanku. Aku langsung berpaling muka, berusaha berpura-pura tidak melihatnya. Yaa, sedikit mengintip mungkin.

Aku cemas. Jantungku berdetak seakan mengagetkanku saja. Berharap ia salah melihat diriku, yang ternyata orang awam, dans emoga saja dia tidak menghampiriku. Namun, angan-anganku tidak terkabulkan.

Ia berjalan santai ke arahku, namun aku tetap membuang muka.
“Aya?” tanyanya sambil memukul bahuku. Membuatku benar-benar tersontak kaget.

Aku enggan menoleh ke arahnya. Sebab aku sudah tahu keberadaanya.

“Aya..Ay ” panggilnya lagi berulang kali. Dan aku pun menyerah dengan sikapnya yang terus memanggilku. Aku berpura-pura bersikap dingin kepadanya. seperti pertama kali aku belum mengenalnya.

“mengapa ketika aku memanggilmu tidak menoleh? Kau cuek sekali dengan diriku selama ini” tanyanya kepadaku heran.

Aku sedikit “kicep” dengan pertanyaannya yang ia torehkan kepadaku. Aku terasa kalah dalam bermain catur, dan aku stuck ditempat.

aku tetap tidak menatap wajahnya yang selama ini selalu kukenal. Aku tidak ingin airmataku mengalir kembali hanya karena melihat wajahnya. Dan aku memutuskan untuk tetap fokus menunggu bis langgananku yang akan tiba beberapa menit lagi.

Kendaraan yang selama ini berharga dalam hidup dan waktuku pun akhirnya tiba. Rupanya feelingku benar.

“tidak apa-apa. Permisi, bisku sudah tiba” jawabku singkat dan datar. Hanya hal itu yang bisa kulakukan. Dan ini merupakan waktu yang sangat tepat bagiku untuk meninggalkannya–karena bisku pun sudah tiba.

“Aya Tunggu!” teriaknya begitu aku berjalan meninggalkannya. 

Aku berlenggang santai menuju bis langgananku. Namun, aku tidak tahu apa yang ia lakukan setelahnya begitu aku pergi meninggalkannya sendiri. Mungkin dulu, ketika aku masih bersamanya, mungkin aku tidak akan tega meninggalkannya sendirian. Itu karena aku adalah seorang wanita yang mempunyai sifat tidaktegaan kepada oranglain.

Aku tidak peduli terhadap komentar yang ia berikan kepadaku karena aku tidak menjawab pertanyaannya tadi.  Entah ia menganggapku sombong atau hal lainnya aku tidak peduli. Dan aku hanya bisa berkata setulus hatiku untuknya,
‘maafkan aku, By. Aku tidak bisa berterus terang kepadamu. Aku hanya ingin melupakan semua kenangan, dan juga melupakanmu. Walau sejujurnya aku masih menganggapmu ada, namun itu tidak akan mungkin. Aku sudah membulatkan tekadku untuk melupakanmu. Dan aku yakin, kau akan lebih bahagia bersama wanita lain –dan yang jelas itu bukan aku. Maafkan aku, maafkan aku, By jika aku sombong terhadapmu. Hiks..’

         Tanpa terasa airmataku berlinang. Aku memang perempuan cengeng, prempuan lemah yang hanya bisa menangisi keadaan. Dan aku tidak malu dengan keberadaanku sekarang yang sedang terduduk manis di dalam bis. Mungkin hanya orang disebelahku yang menganggapku aneh. Sore-sore tanpa sebab, menangis di dalam bis sendirian.

         Aku sungguh tidak peduli terhadap siapapun yang berkata bahwa aku orang aneh. Ya, satu bulan yang saat kita bersama masih terasa manis. Ya, maninya cinta itu masih bisa dirasakan oleh hati. Namun kini cinta itu bagaikan ampas kopi–pahit dan orang-orang akan membuang ampas kopi itu.

‘By, kapan lagi kita bisa bertemus sedekat tadi? Kapan lagi? Aku yakin kita akan mempunyai kesibukan masing-masing’ Hanya waktu yang bisa menjawab pertayaanku. Mungkinkah di tanggal 22 selanjutnya? Tanggal 22 agustus? Bahkan tanggal 22 setahun kemudian?

Postingan Populer