Cerita Pendek



Sabtu, 15 juni 2013
Broken Heart–Kisah Perih

Aku bingung ingin dim ulai darimana. Kisah ini terlalu berbelit, dan perih untuk diingat. Namun aku tersadar, kisah perih ini memang harus diingat, walau aku tidak ingin mengingatnya. Aku telah mengubur perasaanku ini dalam-dalam. Tapi entah mengapa ada seseorang yang kembali membuka galian itu. Ya, itu aku. Aku ini memang bodoh, seharusnya perasaan itu tidak kukubur, melainkan kubuang. Bahkan aku rela buang ke samudra.

          Kalian tidak akan pernah tahu, dan tidak akan pernah menyangka. Aku ini terlalu memendam rasa. Aku tidak pernah menceritakan kisah ini kepada siapapun–kecuali, diriku sendiri.

          Ya, menangis sendiri di dalam kamar. Entah pagi hari, sore, bahkan malam hari. Sudah 3 hari berturut-turut aku ini turut dalam duka. Kemana perginya sukaku? Apakah ia tidak ingin menemaniku? Tidak pernah ada yang tahu aku menangis. Menangis menahan perih. Perih karenanya. Mungkin sekarang teman-temanku sedang berbaur dalam suka, canda, dan gelak tawa. Sedangkan aku?

          Di sekolah, kukubur perasaan perih itu dalam-dalam. Kuberusaha mencari sukaku yang sudah lama menghilang. Jujur, aku membohongi perasaaan diriku sendiri. Ya, aku sangat pandai dalam memainkan drama. Di sekolah, aku bergelak tawa dengan teman-teman–walau sebenarnya itu hanya berpura-pura. Namun di rumah? Nilai dramaku sangatah buruk. Maksudku, aku tidak mampu menahan rasa perih itu. Ya, dengan menagislah aku dapat menghibur diriku sendiri. Orang lain? Tetap tiada yang tahu.

          Sore itu, entah mengapa saraf otakku menuju ke sebuah pusat. Dimana di dalam pusat itu ada sebuah pikiran. Benar saja, aku sedang merindukan seseorang temanku, laki-laki. Aku menatap layar handphoneku, kosong. Aku yakin, balasan chat aku itu sangatlah lama dibalas olehnya. Sebenarnya, aku mempunyai cerita, yang kuharap bisa menghibur aku dan dirinya. Temanku itu sangatlah suka bercanda. Namun sayangnya, kami hanya bisa bertemu melalui media sosial.

          Jujur, aku menyukainya. Entah mengapa aku menyukai pria bermata sipit itu. Mungkin karena aku senang dengan laki-laki yang humoris dan menyenangkan, dan itu adalah dia.

          Sudah kukatakan untuk kedua kalinya. Kisah ini terlalu berbelit dan rumit. Sangat rumit. Namun semoga kau bisa memahaminya.

          Awal mula kami chattingan, dia sangatah menarik, menyenangkan, dan sangat menghibur diriku. Peristiwa menyenangkan itu hanya terjadi selama dua minggu. Yaa, dua minggu itu masih bisa dihitung oleh jari. Bahkan, diapun hampir menyatakan cintanya untukku. Namun aku berpura-pura lugu. Lalu, diapun mengalihkan pembicaraan lain. Entahlah dia membahas apa.

          Dan sekarang, 2 minggu itupun berlalu. Ya, mengapa itulah yang disebut waktu, karena terus berputar. Dan peristiwa dua minggu yang kuharap dapat terus terulang itu tidak pernah terulang kembali. Itulah salahsatu sebab aku menangis, rindu chattingan bersamanya.

          Kembali ke awal. Aku mash menatap layar handphoneku. Namun tiba-tiba, layar handphone yang semula mati itu menyala. Cahaya merah yang nampak di pojok kanan atas handphoneku menyala berulang–itu tandanya ada sebuah kotak masuk. Mungkinkah ada balasan chatting darinya?

          Benar saja, betapa senangnya diriku bahwa dia mengirim sebuah pesan untukku.

Elu kenapa bete?

Ya, aku tahu mengapa ia mengirim pesan untukku seperti itu. Karena aku menulis sebuah personal message yang berisi “gak ada temen chat ._.” dengan sisipan emotion diakhirnya. Aku pun membalas pesan itu,

Gw kesel sama teman-teman di kelas yang terlalu memegang sikap individualisme

Aku membalas dua kali pesan itu

Hai, ****, aku punya cerita deh :)

Begitulah aku. Apakah aku ini terlalu manja menurut kalian? Atau aku hanya ingin mencari perhatian kepada temanku itu. Sebab, aku bingung ingin berbagi cerita itu kepada siapa, selain kepada dia. Kepada teman kelasku? Tidak mungkin. Tidak akan ada yang mau mendengar dan membalas. Tidak berapa lama dia membalas.

Gw juga lagi bete. Memang elu ingin cerita apa?

Akupun kembali membalas pesan itu.

Sewaktu gw makan mie ayam sama ibu gw, gw ngeliat ada sepasang suami istri yang membawa anak-anaknya. Mereka ingin makan mie ayam juga. Pas gw itung jumlah anaknya ada 7. Hahaha...

Begitulah kami. Pesan kami selalu dibubuhi kata “hahaha”. Mungkin hanya sekedar pelengkap suasana saja. Ia pun membalas pesanku dalam waktu satu menit.

Hahaha..banyak bener tuh anaknya. Gilaa,yang bener aja. Yaa, lumayanlah sedikit menghibur.

Darikata yang bergaris bawahlah yang meyakinkanku bahwa dia benar-benar sedang bete. Entah mengapa, tumben sekali.
Kalau menurut gw itu lucu, hehe :D

Hanya beberapa detik berlalu kemudian ia membalas pesanku dengan cepat.

Sayangnya, gw lagi enggak mood buat ketawa. Gw mau curhat ke elu nih. Curhat tentang cewek.

Apa? Cewek? Apa aku tidak salah melihat pesannya ? aku tersontak. Hatikupun ikut tersontak. Bete karena cewek? Dan aku yakin “cewek” yang dia maksud itu bukanlah aku. Semenjak saat itu, hatiku perih. Sejujurnya, aku bingung harus menyandarkan bahu kepada siapa? Tidak ada. 

Aku berusaha menahan rasa perih itu. Aku berpura-pura perhatian kepadanya.memberi solusi yang terbaik terhadap gebetan barunya itu. Padahal sebenarnya aku sudah tidak mood lagi untuk membalas chattingannya.

Dan sekarang? Kepada siapa aku harus bercerita jika aku sedang bosan? Moodku sedang berubah? Kepada siapa lagi? Apakah aku memendam dan memendam perasaan-perasaan perih itu? Apakah perasaan-perasaan perih yang sudah lama berada di dalam hatiku ini tidak akan mengendap? Dan apakah akan menyisakan kepedihan.

Ya, aku adalah seorang perempuan. Tidak mungkin aku berterusterang kepada temanku (yang dulu) kusukai. Teman yang bagiku itu adalah sosok yang spesial (dihatiku). Namun sekarang (nyatanya) ia (telah) hilang dari pandanganku. 

Tenang saja, walau begitu aku (tetap) kuat. Walau seseorang telah melukai hatiku, aku tetap tersenyum. Aku akan (tetap) mencintaimu, walau sekarang perasaanku (tidak) sama seperti dulu.

Bagiku yang terpenting, kau tidak akan pernah melupakanku. Aku masih sangat senang, bila kamu menanggapku (masih) sebagai seorang teman, (bahkan) sahabat curhat. Dan aku yakin, tidak akan pernah menangis di hadapanmu, tepat di depan pandanganmu. Bagiku “menangis” itu adalah “tersenyum”di hadapanmu...


Kisah perih di 14 juni....

Postingan Populer