Pertemuan Singkat Itu, Akankah Terulang?...



Minggu, 19 mei 2013
Pertemuan Singkat Itu, Akankah Terulang?...

Handphone ibu berbunyi dengan dering. Entah mengapa firasatku itu ingin mengambilnya. Akupun kemudian mengambil handphone itu, lalu memberikannya pada ibu. Entah menapa, sekali lagi. Ada firasat tersendiri ketika aku menatap layar handphone ibuku. Sebuah nama, bertuliskan nama teman ibuku. Ya, firasat itu adalah sosok putranya.
Benar saja dugaanku. Usai ibuku berbincang sekitar menit dalam handphonenya, ia berkata kepadaku
“Nanti akan ada teman ibu kesini. Ia ingin mengambil baju titipannya. Dengarkanlah suara pagar nanti” pesan bu.
Aku hanya menuruti. Lalu aku menunggu di halaman rumah. Firasatku muncul kembali. Firasatku seperti sebelumnya. Mengapa aku berfikir, yang datang untuk mengambil baju titipan bukanlah teman ibuku? Melainkan...PUTRANYA? namun, itukan hanya sebuah firasat. Dan firasat itu terkadang benar, namun juga salah.
Aku hanya menghiraukan firasatku itu. Namun tiba-tia, aku diperintahkan ibuku untuk memaikan celana Tito. Dan akupun menuruti saja. Aku segera ke dalam rumah untuk memakaikan celana
Suara handphone ibuku berdering lagi. Rupanya itu panggilan dari teman ibuku itu. Usai menelpon, ibuku malah memerintahkan adikku, Ninuk. Mungkin ibu tidak ingin merepotkanku sebab aku sedang memakaikan celana.
“Nuk, tolong kasihkan baju titipan ini ke anak teman ibu di dekat pos sana” ucap ibu. Kalimat itu, kalimat yang bau diucapkan ibu barusan, membuat saraf-saraf otakku terkoneksi dengan cepat. Sangat cepat. Sesungguhnya, ialah sosok yang kutunggu. Anak teman ibuku!
Mengapa? Mengapa yang harus diperintahkan untuk mengantar baju adalah ADIKKU? MENGAPA? Mengapa tidak aku saja? Apakah tuhan berkehendak lain kepadaku? Padahal, firasatku sudah benar. Bahkan, 100 persen benar. Mengapa takdir berkata lain sehingga bukan aku?
Aku ingin melihat laki-laki itu secara langsung dari sudut rumah, namun aku malu dan enggak mau keppo. Namun aku sangat penasaran. Jujur, laki-laki yang berinisial A iu penuh misteri. Aku ingin menelusuinya lebih dalam, namun aku bukan seorang mata-mata.
Laki-laki itu mungkin tidak tahu rumahku dimana. Jadi, ia hanya menunggu di pos dekat rumahku. Usai adik perempuanku memberikan baju titipan kepada laki-laki itu, adikku pun pulang.
“sudah dianter bajunya?” tanya ibuku. Aku sangat..sangat menyesal denagn kejadian itu.
“sudah bu” jawab adikku.
Akupun berjalan menuju halaman rumah. Berharap laki-laki misterius itu datang ke rumahku. Lagi dan lagi. Entah apakah karena faktor keberuntungan, ataukah firasatku itu kembali menunjukkan kebenaran, ia DATANG! DATANG! Laki-laki itu membawa motor, dan behenti di depan rumahku. Ibukupun datang.
Rasa penasaranku terhadap dia sudah membeludak. Dengan rasa malu, aku curi pandang kepadanya. Aku SANGAT  ingin melihat wajahnya. Apakah kalian tahu? Aku baru melihat laki-laki itu, lewat sebuah foto yang diperlihatkan teman ibuku itu kepadaku. Yaa..cerita tentan foto itu masih panjang. Intinya, kini aku sudah menatap laki-laki itu.
Aku pun berjalan mengikuti ibuku layaknya anak bebek. Lalu berhenti di depan pagar rumah. sementara laki-laki itu ingin beranjak dari motornya itu. Jarakku kepadanya, hanya 5 meter.
“kenapa enggak langsung ke rumah?” tanya ibuku.
“saya ingin buru-buru, bu. Ingin ke sekolah lagi” jawabnya sembari tersenyum sopan kepada ibuku. Ketika ia mengucapkan kata-kata itu, aku segera pergi. Aku tidak ingin dianggap ‘keppo’ olehnya. Jadi, aku segera kembali ke halaman rumah.
Yaa..begitulah. tidak sampai satu menit aku menatap muka anak laki-laki yang sebaya denganku–15 tahun lebih. Sebab, aku tidak ingin..yaahh..begitulah.
Pada saat itu, akupun tidak mendengar percakapan antara ibuku dengan dia lagi. Mungkin ia sudah pulang.  Aku, baru pertama mendengar saat dia berucap kepada ibuku. Dan kuharap ini bukan yang terakhir kali aku mendengarnya.
Ya, aku memang yakin ia akan kembali ke sekolahnya hari minggu ini. Sebab, dia tinggal di asrama pesantren di bogor. Ia pulang ke rumah aslinya seminggu sekali. Jadi aku yakin, hari minggu ini ia akan kembali ke asramanya.
Hanya sekedar tahu saja, laki-laki misterius yang hanya menampakkan wajahnya dalam sebuah foto, kini TELAH MEMECAHKAN rasa penasaranku. Terimaasih telah menampakkan dirimu untukku. Kuharap, ini bukan pertemuan kita yang terakhir.
:*:*:*

Postingan Populer